Sabtu, 28 Desember 2013

Tere Liye: Negeri Para Bedebah

Hai!

Aku baru saja menyelesaikan membaca novel milik Tere Liye yang berjudul Negeri Para Bedebah. Novel ini merupakan salah satu novel fiksi ilmiah. Dari beberapa novel fiksi ilmiah yang sudah pernah aku baca, Negeri Para Bedebah ini menghadirkan dasar keilmuan baru bagiku. Novel ini mengemas materi politik ekonomi, materi yang sangat baru untuk dicerna telinga dan pikiranku. Menarik, sangat menarik. Tere Liye mampu mengemas dunia politik ekonomi secara ringan. Aku sendiri yang memang orang awam dalam bidang ekonomi, menjadi paham dan mengerti siklus peredaran uang di dunia ini. Penjelasan yang diberikan Tere Liye sangat sederhana, bahkan tidak jarang penjelasan itu dilengkapi dengan cerita semacam dongeng. 

Dalam novel ini, Tere Liye memposisikan dirinya sebagai orang pertama pelaku utama. Thomas, lulusan sekolah bisnis ternama di dunia dan kini berprofesi sebagai seorang konsultan keuangan profesional. Memiliki jadwal yang padat setiap harinya melebihi jadwal presiden. Beberapa kali mengisi kolom majalah ekonomi terbaik di dunia. Hingga suatu hari, prestasi dan kecakapan Thomas itu harus diuji dengan persoalan keuangan dari perusahaan bank milik keluarga. Sejak memutuskan untuk belajar ilmu ekonomi, Thomas mengganti seluruh daftar riwayat hidupnya, menghapus bagian-bagian masa lalunya yang tidak ingin diingatnya, bahkan memutuskan hubungan dengan salah satu anggota keluarganya. Ketika pemilik perusahaan bank itu memberikan kabar buruk pada Thomas, dia hampir saja tidak mau peduli, karena pemilik perusahaan itu merupakan anggota keluarga yang sudah ia hapus dari ingatannya. 

Om Liem, anggota keluarga yang sudah tidak ingin diingat Thomas kembali. Malam itu, Om Liem mengabarkan kepada Thomas bahwa kondisi istrinya (Tante Liem) sedang kritis, sementara di luar rumah Om Liem ratusan polisi mengepungnya dan ingin membawanya ke penjara. Mendengar itu, Thomas tidak kuasa menolak permintaan Om Liem untuk datang ke kediamannya. Sesampainya di sana, Thomas melihat kondisi tante dan omnya sangat memprihatinkan. Sebagai anggota keluarga pemilik bank yang hampir bangkrut itu, sekaligus sebagai seorang konsultan keuangan yang profesional, Thomas harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan perusahaan dan keluarganya. Di tengah situasi yang mendesak itu, Thomas membuktikan bahwa dirinya memang pemikir yang handal dan pengambil keputusan yang akurat. Thomas memutuskan untuk membawa lari Om Liem dari kepungan polisi setelah memastikan kondisi Tante Liem benar-benar pulih. Thomas membawa kabur tersangka utama kasus Bank Semesta!

Thomas memutuskan untuk membantu Om Liem menyelamatkan Bank Semesta yang sudah diambang kebangkrutannya. Sebenarnya yang membuat dia tertarik untuk terlibat dalam kasus ini adalah orang-orang yang berkaitan dengan kasus ini merupakan orang-orang yang sama seperti kasus di masa lalunya. Kasus yang membuat dia kehilangan segalanya, orang tua, keluarga, bahkan jati dirinya. Thomas bertekad akan melakukan segala cara untuk menyelamatkan Bank Semesta juga keluarganya. Bahkan jika itu harus berurusan dengan nyawanya sekali pun. 

***

Menegangkan dan cukup energik, konflik-konflik yang diciptakan Tere Liye melalui tokoh Thomas ini. Seorang pria dewasa yang sudah mapan, pintar dan ditambah lagi dia adalah seorang petarung. Tere Liye memberikan sentuhan tambahan untuk watak Thomas ini dengan menghadirkan profesi sampingan sebagai seorang Petarung. Ya, Petarung dalam arti yang sebenarnya. Hal ini dimaksudkan agar watak bedebah dari seorang pelaku politik ekonomi ini tertutup dengan watak petarung yang bertanggung jawab dan tak pernah ingkar janji. Perpaduan yang cerdas sekali! Dengan begitu, pembaca dapat meneladani bahwa para bedebah juga memiliki sisi positif dalam hidupnya.

Seperti pada karya-karya Tere Liye yang lain, dalam Negeri Para Bedebah ini juga dihadirkan sosok "malaikat". Sosok yang arif dan bijaksana dengan segudang ilmunya. Sosok itu adalah Opa, kakek dari Thomas. Diceritakan bahwa Opa merupakan seorang imigran dari China yang mencari kehidupan baru di Indonesia pada saat perang saudara dulu. Opa memulai hidupnya di Indonesia sebagai pengusaha terigu. Usahanya ini kemudian dilanjutkan oleh anak-anaknya, Edward dan Liem (papa dan om Thomas). Dalam novel ini, Opa berapa kali muncul dengan petuah-petuahnya. Memberikan pemahaman melalui kisah masa lalunya. Ini termasuk salah satu ciri khas Tere Liye. Mengajari namun tidak menggurui.

Negeri Para Bedebah ini selain menghadirkan keseruan konflik politik ekonominya, juga sesekali diselingi dengan percikan asmara yang menggelitik antara Thomas dan seorang wartawati muda. Sangat menggelitik karena keduanya sama-sama tidak mau mengakui perasaan, justru menutupinya dengan ego masing-masing. Hal ini menjadi hiburan tersendiri bagi pembaca, di saat-saat tegang menghadapi persoalan politik, asmara ini tampil sebagai intermezo. 

Satu hal yang perlu di sayangkan untuk novel ini, pilihan gambar sampulnya masih kurang menarik. Permasalahan ini memang tidak pernah lepas dari novel-novel Tere Liye. Walaupun ilustrasi gambar sampulnya sudah sesuai dengan cerita yang dikisahkan, namun komposisi gambar, jenis huruf, dan pilihan warnanya masih terlalu kontras. Apalagi jika melihat isi buku ini begitu cerdas dan mampu menarik pembaca. Mungkin pepatah "Don't judge a book by it's cover" sesuai untuk novel yang satu ini. 

Sekian review novel Negeri Para Bedebah ini, semoga dapat menjadi referensi bacaan kalian. Sampai jumpa!

Judul: Negeri Para Bedebah
Pengarang: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Juli 2012
Jumlah Halaman: 433 halaman


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pembaca Dermawan nulis komentar, Pembaca Sopan follow Ulfah Mey Lida's Blog, Pembaca Budiman nulis komentar dan follow Ulfah Mey Lida's Blog.