Sabtu, 30 November 2013

Senja Temaram



Di antara pepohonan yang mulai menghitam tadi
Aku berjalan menyusuri jalan kenangan
Dengan memandangi lagit senja
Yang tergambar wajahmu di sana
Kedamaian yang membuatku teringat
Tat kala kau menggenggam erat jemariku
Tat kala kau memandangiku
Dengan kedua bola matamu
Temaram wajahmu
Membuatku tak bosan
Menggapai kharismamu
Bahagiaku karenamu

Hari ke 2: Novel.. Mana Novel..

Sebenarnya ini postingan apa sih, kok ada urutan harinya gitu?

Bayar nggak? Dapet hadiah nggak??

Kalau mau ikutan caranya gimana?

Tenang, tenang, akan aku jelaskan pelan-pelan. 
Ini adalah postingan dalam rangka mengikuti tantangan 30 hari ngeblog yang diselenggarakan oleh Keven. Beberapa hari yang lalu waktu lagi jalan-jalan di blog, aku menemukan postingan tentang tantangan ini. Nah karena tertarik dan pengen ikutan, akhirnya muncullah postingan-postingan di blog ini dengan urutan hari seperti ini.

Tantangan ini tidak dipungut biaya sama sekali. Siapa pun boleh ikutan, asal punya blog. Yakali ikut tantangan ngeblog, nggak punya blog -___-. Hadiah disediakan untuk semua orang yang ikutan tantangan ini. Serius. Hadiah akan diterima oleh SEMUA yang ikutan. Hadiahnya yaitu viewer dan follower blog. Buat yang baru-baru ini nyobain blog (aku salah satunya) pasti ini kabar yang sangat menggembirakan dong. 

Yang tertarik dan pengen ikutan juga, langsung masuk ke TKPnya aja, di sini. Buruan ikut, udah lumayan banyak itu pesertanya :D

Nah, kali ini aku akan menjawab klu kedua dari tantangan 30 hari ngeblog ini.
Dari sekian banyak hobi yang dimiliki oleh orang di seluruh dunia, aku atau hatiku terpaut pada membaca. Aku suka sekali membaca novel. Dari novel, aku dapat melihat kehidupan lain dalam imajinasi yang diciptakan oleh penulis. Sama seperti menonton film, ketegangan pada waktu konflik cerita dihadirkan pun dapat aku rasakan ketika membaca novel. Bahkan berulang kali ketegangan yang aku rasakan ketika membaca novel justru lebih dasyat ketimbang menonton visualisasinya dari film. Seperti yang kita ketahui, banyak sekali film-film yang disadur dari novel. Ketika membaca novel, aku dapat memainkan imajinasiku atas pemeran-pemeran dalam novel itu. Aku bisa membayang tokoh cerita itu adalah aku dan keluargaku, aku dan teman-temanku, aku dan pacarku, atau aku dan Reza Rahadian. 

Selain keasyikan imajinasi yang bisa aku dapatkan, dari novel aku pun bisa banyak belajar ilmu-ilmu baru. Banyak sekali novel fiksi ilmiah yang beredar saat ini. Novel-novel seperti itu tidak hanya membuat kita dapat berimajinasi, tetapi juga berpikir dan merenungkan hal-hal yang disampaikan penulis. Tidak jarang pula dalam novel fiksi ilmiah itu disematkan pengertian-pengertian tentang istilah ilmiah. Aku sangat senang dengan novel yang seperti ini. Jadi aku tidak perlu bersusah payah membaca buku atau pun ensiklopedia tertentu untuk dapat belajar khasanah ilmu lain dari yang sudah aku kantongi saat ini.

Aku bukan tipe pebaca novel yang singkat, juga bukan lambat. Aku bisa menyelesaikan membaca novel dengan ketebalan 450 halaman dalam satu hari, tapi aku juga bisa menyelesaikan membaca novel dengan ketebalan 200 halaman berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Itu semua bergantung bahasa yang digunakan penulis dan jalan cerita yang digambarkannya. Padahal ketika berada di toko buku, aku bisa menghabiskan waktu yang lama untuk memilih novel berdasarkan cover, sinopsis, dan ulasan singkat yag ada di bagian luar novel itu. Tapi memang cover yang bagus tidak selalu menjanjikan isi yang bagus. Itu sebabnya muncul pepatah "Don't judge a book by its cover".

Sedikit cerita, dulu waktu masih kuliah, aku bersama temanku sering mampir ke toko buku. Bukan untuk membeli buku, tapi hanya sekedar membaca-baca sinopsis buku. Ironis ya, tp begitulah adanya. Namanya juga anak kosa, duit pas-pasan. Jika kebetulan ada buku yang bagus, kami hanya bisa memandanginya dan berharap ada bajakannya. Sampai pada akhirnya kami mengucap janji bahwa nanti jika sudah dapat menghasilkan gaji, kami akan belanja buku minimal satu bulan sekali. 

Dan itulah yang sedang aku idam-idamkan saat ini. Dua hari lagi aku akan mendapatkan gaji dari hasil mengajar privat. Meskipun gaji yang aku terima tidak lebih banyak dari gaji buruh saat ini, tapi aku tetap ingin belanja buku. Apalagi stok bacaan terakhir sudah selesai aku baca. Jadi aku harus segera membeli persediaan buku baru.

Oke, cukup untuk postingan hari ini ya. Ini beberapa koleksi novel milikku.

Beberapa masih dipinjem orang :/

Kamis, 28 November 2013

Hari ke 1: Permintaan Maaf, Salam Kenal!

Hai!

Rasanya belakangan ini aku kurang sopan sekali, masuk Blogger nggak pake permisi. Main tulis sana sini tanpa ada basa basi. Maaf, maaf. Akan aku tebus kesalahan itu hari ini.



Perkenalkan, aku Ulfah Mey Lida. Sarjana Pendidikan baru yang baru lulus bulan lalu. Aku lahir pada 5 Mei 1992. Belum terhitung tua untuk memulai menulis blog kan ya? Saat ini aku sedang memulai profesi sebagai seorang blogger dan guru privat siswa SD-SMP. Menjalani hari-hari sebagai seorang sarjana baru, bagiku cukup melelahkan. Banyak sekali kesibukan yang sebenarnya tidak terlalu menyibukkan tetapi benar-benar membuat sibuk. Salah satunya ya ngeblog ini. Pfft.

Aku suka sekali membaca sastra. Apalagi sastra yang ditulis oleh Dee Lestari. Karyanya yang berjudul "Supernova" telah membuatku tersihir untuk mengagumi kehebatannya. Selain itu, aku juga menyukai seni. Seni musik, seni rupa, seni drama, dan seni tari. Musik selalu menolongku di saat-saat terburukku, terutama musik akustik. Aku selalu takjub dengan orang yang bisa mengambil gambar-gambar keren dari kameranya, dan lebih takjub lagi dengan orang yang dapat menciptakan gambar kreatif dengan alat-alat gambarnya. Sebenarnya aku berharap bisa jadi objek foto atau objek gambar mereka. Kalau seni drama, aku menyukai seni ini sejak aku masuk kuliah di bidang sastra. Beberapa kali aku menonton pertunjukkan drama, bahkan aku juga pernah memainkan lakon "Hah!" karya Putu Wijaya bersama teman-temanku di jurusan. Dan yang terakhir, sebenarnya aku tidak terlalu menyukai seni tari, hanya saja aku sangat mengapresiasi orang-orang yang bisa melenturkan tubuh mereka sedemikian rupa hingga dapat menampilkan gerakan yang menakjubkan. 

Aku memiliki hati yang mudah terharu. Memiliki emosi yang mudah naik turun. Dan memiliki sikap terburu-buru setiap waktu. Aku menyadari ini semua, dan bukan berarti aku bangga. Yaa seperti kalimat-kalimat klise yang sering orang katakan, saat ini aku sedang berusaha memperbaiki itu semua agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga kalian tidak semakin menjauhiku setelah membaca pengakuan ini.

Segini saja yaa, biasanya perkenalan yang kelamaan itu malah tidak didengarkan. Hahaha. Sampai ketemu di blogpost berikutnya!

Rabu, 27 November 2013

Letong

Hai!

Hari ini aku ingin berbagi kisahku bersama tiga orang yang memperkenalkan diri sebagai "Letong". Kami tidak menyebut hubungan kami ini sebagai persahabatan, karena memang yang kami lakukan bukan sebuah persahabatan namun lebih jauh dari itu. Kami bisa berhubungan layaknya keluarga, layaknya partner kerja, layaknya dokter dan pasiennya, bahkan layaknya musuh bebuyutan.


Kalau ada yang berpikir bahwa kami ini sebuah geng, sayang sekali, kalian 75% benar. Kami hidup saling melindungi satu sama lain, tapi tanpa pemimpin. Itu sebabnya aku tidak mengatakan 100% benar. Sebenarnya aku ingin mengulas asal usul istilah Letong ini, namun hal ini terlalu melenceng dari penampakan wujud asli kami. Bagi yang berasal dari Jawa, kalian pasti tahu apa itu Letong. :P

Kami terdiri atas Tika, Ghaida, Jani, dan aku sendiri. Kami dipertemukan di bangku kuliah. 

Ini pertama kali kami berkumpul. Lihatlah, kami masih memakai pose alay kami masing-masing. :D

Hubungan kami dimulai dari awal kuliah di semester 1. Berbagai kesibukan kuliah kami lakukan bersama-sama. Dan tahukah kalian, mengikuti kuliah bersama mereka itu SERU! Kami berlomba-lomba untuk menjadi yang terdepan di semua mata kuliah. Meski begitu, kami tetap saling membantu jika ada yang mengalami kesulitan.

Kami memiliki banyak sekali kegiatan gaul di luar jam kuliah. Salah satunya yang akan aku bahas berikut ini. Bulan Ramadhan kemarin, kami mengisi waktu luang ngabuburit dengan berjualan takjil di sekitar kampus. Takjil yang kami jual adalah es buah yang kami beri nama EL Fruit. Di bulan ramadhan itu kami membuka lapak mulai dari pukul setengah 5 sore. 

"Es Buah!! Es Buah!!! Es Buah!!!!!" Teriak mbak mbak penjual es buah dengan raut muka menegang dan nada suara yang sangat memaksa.

Siapa sangka, jualan kami selalu habis terjual setiap harinya. Yaa walaupun teriakannya lantang membahana, pelanggan-pelanggan kami dengan senang hati menghampiri dan membeli es buah kami. Dan itu sangat menyenangkan! :D Tapi keceriaan itu hanya bertahan tiga hari saja. Kami meminta maaf sekali untuk semuanya yang pada ramadhan kemarin masih menunggu kehadiran kami. Bukan, bukan karena kami bubar berebut hasil jualan, tapi waktu itu kami hanya ingin kembali fokus kuliah saja. :P

Semakin bertambahnya usia kami, semakin bertambah pula keakraban kami. Saat mengerjakan Skripsi kemarin, kami justru semakin sering menghabiskan waktu bersama. Saling support saat salah satu dari kami diberi siksaan skripsi oleh dosen pembimbing. 

Tahukah kalian? Muka kami yang lucu nun lugu itu dibilang brutal oleh sebagian orang.

Sampai tiba saatnya kami menyelesaikan studi kami dan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan. Perasaan senang, bahagia, bangga, lega campur aduk dalam hati masing-masing dari kami. Akhirnya kami dapat mengenakan toga BERSAMA. Dulu kami sempat berpikir jika kami tidak dapat melangsungkan prosesi itu bersama. Atau salah satu dari kami tertinggal sendirian bersama skripsinya. Kami pernah berpeluh air mata gegara masalah ini. Dan ternyata, jawaban yang Dia berikan sungguh melegakan.

Pas ngambil foto ini, Tika udah cabut duluan sama pacarnya. Pfft.

Akhirnya kami dapat menyandang gelar S.Pd. di belakang nama kami. Gelar yang selama ini kami idam-idamkan. Entah sudah berapa kali tawa dan tangis berhias di wajah kami demi mendapatkan gelar itu. Kini kami siap mengabdikan diri untuk bangsa dan negara. Kami siap menjadi Ibu Guru bagi peserta didik kami. 

(kiri ke kanan) Bu Ghaida, Bu Jani, Bu Ulfah, dan Bu Tika.

Selamat mengabdi teman-teman Letong. Semoga ilmu yang kita peroleh selama ini dapat bermanfaat bagi siswa-siswi kita. Aku sangat merindukan kalian. Sampai bertemu lagi di lain kesempatan. 


Selasa, 26 November 2013

Rumah Belajar Ilalang


"Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia."

Siapa yang tidak mengenal penggalan kalimat itu? Semenjak Tim sepakbola U-19 Indonesia memenangkan piala AFF 2013, kalimat milik bung Karno tersebut semakin populer berkat celoteh komentator fenomenal Valentino Simanjuntak itu.

Begitu hebatnya kekuatan yang dimiliki oleh pemuda hingga mampu mengguncang dunia. Hal ini memang terbukti benar adanya. Bukan hanya pemuda zaman dulu saja yang memiliki semangat menggguncang dunia, pemuda sekarang pun tidak kalah membara dan gaul tentunya. Banyak sekali kegiatan-kegiatan positif yang dilakukan oleh pemuda zaman sekarang. Di antaranya kegiatan penggalangan dana bantuan, penyelenggaraan tanam pohon, jalan sehat bersama, dan masih banyak lagi yang lainnya. Semua kalangan masyarakat dapat mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut, tak terkecuali anak-anak. Umumnya pemuda-pemuda ini berkumpul dan membentuk satu komunitas agar dapat menghimpun lebih banyak anggota lagi dan dapat menyelenggarakan acara-acara positif secara teratur.

Salah satu komunitas yang memiliki kegiatan positif yaitu Rumah Belajar Ilalang. Aku mengenal mereka dari jejaring sosial Twitter. Waktu itu secara tidak sengaja aku membaca Timeline @Penyala yang membalas Tweet dari @Rumah_Belalang ini.

Dulu aku sempat mengira bahwa tidak ada komunitas inspiratif di wilayah Jepara (FYI: aku tinggal di Jepara). Aku selalu iri dengan kota-kota besar seperti Jakarta, Jogja, atau Semarang yang memiliki puluhan komunitas inspiratif. Bahkan aku sempat berpikir untuk memulai sendiri dari awal dan menghimpun pemuda-pemudi di sekitarku untuk membentuk suatu komunitas. Yaa tapi itu masih dalam proses pikiranku saja, seperti yang pernah aku jelaskan di sini. Tapi ternyata, setelah aku membaca tweet dari @Penyala itu, aku menjadi tahu bahwa ada komunitas inspiratif di Jepara. Penasaran, aku buka Timeline twitter mereka. Aku baca kegiatan-kegiatan mereka, foto-foto mereka, juga sosok siapa saja yang ada di Rumah Belajar Ilalang ini. Dari sana aku mengetahui bahwa RBI ini merupakan sebuah komunitas penyedia tempat belajar bagi anak-anak. Alamat mereka yaitu di Desa Kecapi Rt 14 Rw 02, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara.


Rumah Belajar Ilalang (RBI) ini berdiri sejak April 2011 dari inisiatif Muhammad Hasan, atau yang biasa disebut Kak Hasan. Berawal dari keinginan untuk membuat hari minggu menjadi hari libur produktif bagi anak sekolah, dia memutuskan untuk mendirikan Rumah Belajar Ilalang ini. Sebuah tempat yang dapat mendekatkan anak pada lingkungan dan budaya warisan nenek moyang, bukan pada sinetron televisi ataupun game online. Hasan mengawali RBI ini dengan menyediakan tempat di rumahnya. Anak-anak yang datang ke RBI sebagian besar mereka yang tinggal di sekitar Kecapi, mulai dari anak TK sampai SD kelas VI. Umumnya, mereka adalah anak2 dari keluarga yang kurang mampu. Mereka berkumpul di RBI awalnya untuk membaca bersama. Hal ini dikarenakan di daerah Kecapi memang belum tersedia perpustakaan umum. Jadi ketika Kak Hasan ini membuka RBI untuk mereka, angin segar pun menghampiri. Kegiatan di RBI ini awalnya dilakukan seminggu sekali, yaitu pada hari minggu. Seiring berkembangnya jumlah anak di RBI, kegiatan pun meningkat. Dari yang hanya membaca buku bersama di hari minggu, berkembang menjadi belajar bersama di hari apapun jika mereka mengalami kesulitan pada pelajaran di sekolah.

Kak Hasan menanamkan budaya membaca kepada anak-anak ini awalnya dengan membacakan dongeng kepada mereka. Kegiatan di hari minggu sejak pukul 09.00 WIB ini selalu diawali dengan pembacaan dongeng oleh Kak Hasan. Baru setelah itu mereka diberi kesempatan membaca buku-buku anak yang disediakan RBI. Buku-buku ini merupakan hasil sumbangan Hasan sendiri, teman-teman pengurus lain, maupun donatur-donatur dari seluruh Indonesia. 


Meskipun di tempat yang sederhana, mereka tetap antusias membaca

Seiring berkembangnya RBI ini, berkembang pula kakak-kakak pengurusnya. Selain kak Hasan, ada pula Kak Sofi, Kak Waluya, dan Kak Isrowiyah. Mereka menyebut dirinya sebagai Ranger (relawan). Selain itu, RBI juga mengalami perkembangan pada jenis kegiatannya. Ada kegiatan belajar musik bersama, belajar bermain theater bersama, belajar menari bersama, membuat keterampilan bersama, menonton film bersama, dan masih banyak lagi kegiatan positif yang mereka lakukan.


Kegiatan berbagi cerita bersama kak Mustaqim 


Berkreasi dengan limbah kain jok sofa 


Belajar menanam padi di sawah

RBI memiliki agenda tahunan yang mereka beri nama Olimpiade Dolanan Anak (ODOLAN). Dalam kegiatan tersebut berbagai permainan tradisional tempo dulu diperlombakan. Seperti Dakonan, Gobak Sodor, Dam-daman, Egrang, dan lain-lain. Kegiatan yang berlangsung satu hari ini diikuti oleh ratusan anak  tiap tahunnya. ODOLAN bertujuan untuk mengurangi kecenderungaan anak bermain Game digital baik on-line maupun tidak.

Selain menyelenggarakan berbagai macam perlombaan dolanan, ODOLAN tetap menyediakan ruang baca bagi anak-anak

RBI juga pernah memeriahkan kegiatan Olimpiade Taman Baca Anak (OTBA) yang diselenggarakan di Bumi Perkemahan Ragunan Jakarta Selatan. Pada kesempatan itu, adik-adik penghuni RBI menampilkan tarian khas Jepara, yaitu tari Krida Jati.

Tari Krida Jati di OTBA Jakarta Selatan

Semangat dan antusiasme mereka untuk belajar sangat sangat tinggi. Jadi akan disayangkan jika hal itu hanya kita lihat dan tidak kita beri tindakan positif. Nah, untuk kalian yang bersedia bergabung menjadi Ranger RBI, dapat menghubungi Kak Hasan atau datang langsung ke sanggar RBI di Desa Kecapi Rt.14 Rw.02, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara. Kegiatan rutin mereka dilakukan setiap hari Jumat pukul 13.30 dan hari Minggu pukul 09.00. 

Dan untuk kalian yang ingin memperkaya pengetahuan adik-adik penghuni RBI dengan bantuan buku, RBI masih memiliki program #sedekahbuku



Jika bersedia mengikuti #sedekahbuku ini, sila kirim paketnya ke alamat Desa Kecapi Rt.014 Rw.02, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Kakak-kakak Ranger dan adik-adik penghuni RBI akan dengan senang hati menerima kiriman paket kalian. Paket buku yang dikirimkan boleh apa saja, asalkan sesuai untuk dibaca anak-anak ya! Dan niscaya, kalian yang bersedia berpartisipasi akan mendapatkan balasan surga dan tentunya menjadi pemuda pemudi GAUL. :D

Rumah Belajar Ilalang
Twitter: @Rumah_Belalang



NB: Maaf kalo kualitas gambarnya jelek. :D

Senin, 25 November 2013

Pendidik itu harus Smart!

Hai!

Beberapa hari yang lalu, secara tidak sengaja aku membaca kicauan Andi Gunawan yang membicarakan lomba ngeblog dari Emak Gaoel. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul, kicauan itu hanya aku tandai sebagai favorit, tanpa meninjau tautannya terlebih dahulu. Beberapa jam berikutnya baru aku buka dan aku baca tautan tersebut. Ternyata ada perlombaan menulis kreatif dalam rangka ulang tahun Blog Emak Gaoel yang ke-5. Hati-hati sekali aku membaca penjelasan lomba itu, dan akhirnya aku memutuskan untuk mengikutinya. Selain hadiahnya yang membuatku tergiur, kesempatan untuk memiliki pengunjung blog juga membuatku tertarik. Hahaha, kalian tidak tahu kan bagaimana tatapan nanarku ketika melihat statistik pengunjung blog ini. Selain itu, alasanku tertarik mengikuti lomba ini yaitu aku memperoleh ide menulis. Dengan beberapa persyaratan yang diberikan justru membuatku tertarik dan memunculkan ide-ide segar di kepalaku. Itung-itung nambah jumlah postinganlah yaa.

Baiklah, mari kita mulai saja perlombaan ini.

Sekarang ini aku sedang menekuni pekerjaanku membimbing siswa-siswi SMP untuk belajar Bahasa Indonesia di luar jam sekolah. Aku yang notabene Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia ini kebetulan belum mendapat kesempatan untuk mengajar pada jam sekolah. Pekerjaan yang aku lakukan ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pekerjaan mengajar di sekolah, hanya saja jumlah siswa yang aku ampu cenderung lebih sedikit. Dalam satu kelas hanya tersedia maksimal sepuluh kursi untuk siswa. Dengan jumlah siswa yang lebih sedikit itu, aku mampu membelajarkan Bahasa Indonesia secara lebih efektif. Aku justru dapat membimbing satu-persatu dari mereka ketimbang pembelajaran pada saat jam sekolah.

Aku menikmati saat-saat bertemu dengan mereka, bercengkerama dengan mereka, menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, dan memberikan pengertian-pengertian yang belum mereka pahami. Dan satu hal yang membuatku senang dan ketagihan untuk melakukannya, yaitu mendapati mata mereka hanya tertuju padaku. Kilatan sinar dari mata mereka menggambarkan bahwa mereka sedang mendengarkanku dan dapat mencerna setiap penjelasanku. Juga tatapan ingin tahu yang mereka tunjukkan itu yang membuatku merasa smart. Ketika perhatian mereka tertuju padaku, ketika itu pula aku merasa bahwa mereka percaya padaku. Mereka membuatku smart dengan mempercayakan pertanyaan-pertanyaan yang sulit mereka pahami itu kepadaku. Perasaan semacam itulah yang membuatku ketagihan untuk menggali ilmu lebih banyak lagi agar dapat mempertahankan tatapan itu terhadapku.

Terkadang ada beberapa siswa yang memberikan kepercayaan lebih kepadaku. Mereka mempercayaiku untuk mendengarkan kisah pribadinya. Di sela-sela PR akademis mereka yang aku bantu selesaikan, PR realita sosial pun ikut aku perhitungkan. Mendengarkan mereka bercerita menjadi salah satu hal yang menyenangkan bagiku. Justru dengan sikap mereka yang seperti itu, aku merasa diterima dan dihargai. Hal ini menjadi semacam hubungan timbal balik antara guru dan siswa. Apa yang guru sampaikan dapat siswa terima dengan baik dan apa yang siswa bicarakan dapat guru dengarkan dengan penuh pengertian. Menurutku, ketika dua hal ini dapat berjalan dengan seimbang, maka indikator pada setiap kompetensi dasar pun akan lebih mudah dicapai.

ini salah satu kelas yang aku ampu

Ketika tiba saat pembagian hasil belajar mereka di sekolah, perasaan deg-degan pun hinggap padaku. Karena sedikit banyak dari cara belajar mereka terdapat campur tanganku. Beberapa permasalahan yang belum dapat mereka pecahkan di sekolah, mereka selesaikan bersamaku. Beberapa hal yang belum mereka mengerti dari penjelasan guru di sekolah, mereka tanyakan kepadaku. Sehingga pada saat mereka datang kepadaku dengan menunjukkan hasil belajar yang memuaskan, perasaan bangga dan bahagia membuncah dalam hatiku. Itu berarti apa yang selama ini aku sampaikan dapat mereka terima dengan baik. Hal-hal yang sebelumnya kurang mereka pahami, dapat mereka cerna lebih baik melalui penuturanku. Dan, sorot mata yang menunjukkan kepercayaan yang mereka tunjukkan kepadaku itu tidak sia-sia dengan perolehan nilai akademis yang memuaskan.

Meskipun aku belum berkesempatan melakukan pembelajaran pada jam sekolah, namun aku tetap membagikan ilmu yang aku punya dengan sepenuhnya. Meskipun aku belum berseragam PGRI seperti guru-guru yang lain, tapi aku dapat membuat mereka mengerti dengan pemahamanku yang sederhana. Sapaan "bu" yang mereka sampaikan kepadaku menunjukkan penerimaan akan statusku. Kebiasaan mencium tangan yang mereka lakukan terhadapku juga yang membuatku berat untuk meninggalkan pekerjaan ini. Penerimaan yang mereka tunjukkan kepadaku secara tidak langsung memunculkan semangat tersendiri bagiku untuk menjadi pendidik yang lebih baik. Seorang pendidik yang smart dan bisa diandalkan oleh siswa juga orang-orang disekelilingnya.

Yang aku sayangkan di sini adalah hampir kebanyakan orang di lingkungan tempat tinggalku menganggap bahwa seseorang yang disebut guru merupakan orang yang melakukan pengajaran di sekolah. Dengan kata lain, kegiatan yang selama ini aku kerjakan belum mampu membuatku diakui sebagai seorang guru. (mungkin) Mereka menganggap apa yang aku lakukan saat ini hanyalah untuk mengisi waktu luang. Ada pula orang yang mengatakan bahwa pekerjaan yang sedang aku tekuni saat ini tidak dapat memberi penghidupan yang menjanjikan. Terus terang saja, hal itu sedikit menggelitik benakku. Jika dilihat dari segi penghasilan, memang benar jika gaji yang aku dapatkan jauh lebih sedikit ketimbang uang saku bulananku semasa kuliah. Hahaha. Apa yang aku lakukan saat ini bukanlah untuk mengejar pengakuan ataupun penghasilan. Karena bagiku, pekerjaan adalah ketika merasa puas dengan apa yang kita kerjakan, dan ketika kita dapat berkata bahwa memang di sinilah tempatku berada. Dan itu dapat aku temukan dalam pekerjaanku saat ini. Aku yakin , jika aku melakukan pekerjaan ini dengan sepenuh hati, aku dapat menghasilkan sesuatu yang menjanjikan. Jika aku dapat menekuni pekerjaan ini dengan baik, aku yakin akan memperoleh hasil yang lebih. Dan yang paling penting, aku harus smart!

Aku kira cukup untuk kisah mengajarku kali ini. Jadi bagiku, smart adalah ketika semua mata hanya tertuju padamu, ketika sebuah kepercayaan diberikan kepadamu, serta ketika sebuah tanggung jawab dibebankan kepadamu dan kamu dapat mempersembahkannya dengan baik.

Terakhir, selamat ulang tahun Blog Emak Gaoel dan selamat hari Guru bapak ibu PGRI. Semoga apa yang kita lakukan selama ini dapat bermanfaat bagi orang lain. Terus berkarya untuk masa depan bangsa yang lebih baik. 



Senin, 18 November 2013

Potret Pemuda Generasi Penerus Bangsa 2014

Pagi ini matahari masih bermalas keluar, hanya mengintip sebentar dari balik selimut hangat awan. Aku tersenyum getir melihatnya, sama seperti kegetiranku melihat pemuda-pemuda kampungku yang bermalas meninggalkan kebodohannya. Aku tak tahu apa yang ada dalam benak mereka. Hal-hal bodoh yang menurutku tidak ada juntrungan masa depannya malah mereka sukai dan tekuni ketimbang menimba ilmu dari jalur pendidikan formal. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat sini menyukai hiburan musik dangdut. Apalagi daerah tempat tinggalku ini terkenal sebagai gudangnya biduan cantik dan seksi, ikon hiburan musik dangdut. Hampir setiap warga yang memiliki hajat, selalu mengundang hiburan musik dangdut. Hal ini akan menjadi kabar bahagia untuk pemuda-pemuda kampungku. Di samping bahagia akan melihat biduan-biduan seksi, mereka juga akan berpesta pora minum-minuman keras. Bahkan tidak jarang mereka terlibat dalam bentrokan antarpemuda ketika menikmati hiburan musik dangdut tersebut. Ini termasuk dalam hal bodoh yang aku katakan tadi.

Di hari yang lain, pemuda-pemuda sini sering menghabiskan waktu di warung kopi. Yang mereka kerjakan tidak lain adalah merokok dan ngopi. Sambil bercengkerama dan membicarakan hal-hal bodoh lain, mereka bisa betah berjam-jam di warung kopi. Bayangkan, di usia belasan seperti itu mereka lebih memilih bangku warung kopi ketimbang bangku sekolah formal. Aku memang menyutujui pendapat yang mengatakan bahwa belajar bisa dilakukan dimana saja kapan saja dan oleh siapa saja, tidak hanya di sekolah. Tidak ada yang menyalahkan hal ini, namun apabila dapat memperoleh keduanya kenapa tidak? Saat ini, pemerintah sudah mencanangkan wajib belajar sembilan tahun. Sudah dapat dipastikan bahwa biaya pendidikan selama sembilan tahun itu dibebankan kepada pemerintah. Paling-paling mereka hanya butuh membeli keperluan sekolah seperti sepatu, tas, dan alat tulis. Itu pun tidak semua sekolah mewajibkannya. 

Mengetahui keadaan yang seperti itu seharusnya mereka bisa memperoleh pendidikan formal secara gratis, juga bisa memperoleh mendidikan nonformal di waktu yang lain. Menurutku, hal ini hanya sebatas kemauan ya dan tidak. Sungguh ironis melihat mereka yang memilih "tidak" untuk mendapatkan keduanya. Si Anu misalnya, dulu dia pernah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama Negeri selama setahun. Setahun mengenyam pendidikan di bangku sekolah formal tidak menjadikannya berpandangan jauh ke depan menatap masa depan. Justru dia merasa kelelahan menghadapi sikap-sikap formal itu dan memilih untuk berbelok ke pendidikan non formalnya di warung kopi hingga saat ini. 
***

Matahari tampak malu-malu mengintip dari balik jendala ruang tamuku tempat aku menulis tulisan ini. Sama malu-malunya dengan pemuda-pemudi sini yang penasaran dengan dunia kerja di Ibu Kota. Tak lulus dari pendidikan formal yang tinggi tidak membuat keberanian jiwa muda mereka surut. Awalnya hanya satu dua orang pemuda yang tergiur oleh bujukan salah satu agen penyalur tenaga kerja ke Ibu Kota. Tiga empat dari mereka yang melihat temannya mampu berjuang di sana pun menyusul berangkat. Jadilah mereka buruh-buruh kasar Ibu Kota yang setiap harinya berpeluh untuk memperoleh sesuap nasi. Usia belasan yang seharusnya mereka gunakan untuk merajut prestasi, justru harus ditukar dengan angan-angan basi. 

Banyak pula dari mereka yang memilih untuk mencari pendamping yang bersedia menemani mereka menanggung hidup susah bersama. Mungkin mereka pikir dengan memiliki pasangan, mereka akan lebih mudah menyelesaikan masalah yang sudah terlanjur mereka perbuat. Masalah yang akan mendarah daging dan turun menurun itu mereka pikir bisa terselesaikan dengan MENIKAH. Dengan pendidikan yang minim itu bagaimana mungkin menjadi kepala keluarga yang bijaksana? Dengan pendidikan yang minim itu bagaimana mungkin menjadi Ibu yang dapat menjawab segala pertanyaan anaknya?

Aku sendiri merupakan salah satu Sarjana Pendidikan dari Universitas Negeri di sini. Melihat kenyataan yang seperti itu membuatku ingin berteriak di depan mereka bahwa PENDIDIKAN ITU PENTING! Di tahun yang penuh dengan pemuda pemudi berprestasi ini bahkan masih ada usia belasan yang memilih Warung Kopi ketimbang pendidikan formal. Sebenarnya menu apa yang ditawarkan Warung Kopi sehingga membuat pemuda-pemuda itu menyukainya? Apa yang mereka dapatkan di sana? Ketenaran sebagai pemuda jagoan? Label pemuda funky dan gaul? HELLOOOO!! INI DUA RIBU TIGA BELAS MEN!!! Kalian bakalan tenar kalau kalian berprestasi! Kalian bakal dicap gaul kalau kalian kreatif! Buka mata kalian, lihatlah ke depan, tatap dunia di luar tempurung desa kita.

Kadang aku merasa bersalah jika harus melaksanakan tugas mengabdi di daerah orang lain. Aku merasa bahwa daerah tempat tinggalku yang sebenarnya lebih membutuhkanku. Berulang kali aku mikirkan hal ini, mulai dari rencana mengabdi, merintis usaha, sampai membentuk organisasi yang dapat mengumpulkan mereka. Sayangnya semua itu hanya sebatas rencana, keterbatasanku adalah memulai. Dari mana aku harus memulainya, dengan siapa aku dapat bekerjasama, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang selalu menggangguku untuk memulai. 
***

Sepertinya matahari memang enggan menyapa kita hari ini, dan aku juga sudah lelah menceritakan sudut lain dari Negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. Untuk kalian yang memiliki ide dan solusi atas keadaan di atas, jangan enggan berbagi di kotak komentar yang telah disediakan. Dan untuk kalian yang sekampung halaman denganku, mari kita bergabung dan bersama-sama membuka tempurung desa kita.

Ditulis di rumah kecil di salah satu gang di Desa Welahan, Rt 03 Rw 03, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia.

Sabtu, 09 November 2013

Almost is Never Enough

Hai!
Selamat apa saja buat kalian yang masih mau mengunjungi blog baruku :D


Hari ini aku ingin mengapresiasi sebuah lagu yang sering aku dengarkan beberapa hari belakangan ini. Lagu yang aku dengarkan belakangan ini merupakan jenis lagu akustik. Aku sangat suka lagu-lagu yang dimainkan secara akustik. Beberapa penyanyi akustik yang sering bertengger di playlistku antara lain Brian Mc Knight, Glenn Fredly, Secondhand Serenade, dan yang terbaru Ariana Grande. Nah, yang akan kita bahas kali ini adalah lagu yang berjudul Almost is Never Enough yang dinyanyikan oleh Ariana Grande ft. Nathan Sykes. 

I'd like to say we gave it a try
I'd like to blame it all on life
Maybe we just weren't right, but that's a lie, that's a lie
And we can deny it as much as we want
But in time our feelings will show
'Cause sooner or later
We'll wonder why we gave up
The truth is everyone knows
Almost, almost is never enough
So close to being in love
If I would have known that you wanted me
The way I wanted you
Then maybe we wouldn't be two worlds apart
But right here in each other's arms
And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough
If I could change the world overnight
There'd be no such thing as goodbye
You'd be standing right where you were
And we'd get the chance we deserve
Try to deny it as much as you want
But in time our feelings will show
'Cause sooner or later
We'll wonder why we gave up
The truth is everyone knows
Almost, almost is never enough (is never enough, babe)
We were so close to being in love (so close)
If I would have known that you wanted me the way I wanted you, babe
Then maybe we wouldn't be two worlds apart
But right here in each other's arms
And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough
Lagu ini dikemas dengan alunan piano yang sangat indah. Suara Ariana dan Nathan pun sangat merdu, sehingga menambah nilai rasa dalam lagu. Waktu pertama mendengar lagu ini, aku belum begitu mengerti dengan maksud liriknya, namun suara mereka berdua membuatku ingin terus memutar kembali lagu ini. Aku tidak begitu mengerti tentang teknik menyanyi, namun bagiku perpaduan suara Ariana Ft. Nathan dan alunan piano dalam lagu ini begitu baik. Cengkok yang mereka gunakan sangat pas dalam setiap bagian lagu, sehingga mereka terkesan seperti meneriakkan rintihan hati. Tentu saja, hal ini seperti yang penciptanya inginkan, yaitu agar pesan lagu ini tersampaikan kepada pendengar.

Berdasarkan Interpretasiku, lagu ini bercerita tentang penyesalan dari sebuah perpisahan. Sebuah perpisahan yang tidak pernah disangka sebelumnya. Tentang sepasang muda mudi yang dipenuhi gelora cinta menggebu, dengan keyakinan yang tinggi akan satu sama lain. Keyakinan itu membuat mereka lupa untuk saling menanyakan keberadaannya dalam hati masing-masing. Mereka lupa bahwa terkadang cinta juga bisa kadaluarsa (Raditya Dika, Cinta Brontosaurus). Akhirnya mereka menyerah dan memilih untuk berpisah. Setelah perpisahan ini terjadi, mereka menyadari bahwa hal ini salah. Bahwa seharusnya mereka lebih peka terhadap apa yang diinginkan pasangan terhadap kita. 
Almost, almost is never enough
So close to being in love
If I would have known that you wanted me
The way I wanted you
Then maybe we wouldn't be two worlds apart
But right here in each other's arms
Seandainya mereka bisa lebih peka, senadainya mereka bisa memahami, dan seandainya mereka bisa sedikit bersabar untuk mengendalikan perasaan masing-masing.

Dari lagu ini kita belajar untuk dapat memahami pasangan kita. Perpisahan dari sebuah perjuangan hanya akan menimbulkan penyesalan pada akhirnya. Terbukalah kepada pasangan kita tentang apa yang kita rasakan. Dengarkan dan pahami hati masing-masing. Karena cinta itu mendengarkan, bukan melampiaskan perasaan.

Bagi kalian yang memiliki interpretasi lain mengenai lagu Almost is Never Enough ini, silakan share di sini, karena saya yakin setiap orang memiliki interpretasi yang berbeda. Dan bagi kalian yang penasaran dengan lagi ini, berikut saya sajikan penampakannya. Cekidot!



Rabu, 06 November 2013

My Mirror


Entah mengapa setiap hari aku semakin merasa bahwa aku merupakan cerminan dari Ibukku. Tingkah lakuku, cara bicaraku, pola pikirku, bahkan watak dasarku itu aku warisi dari beliau. Ketika aku melihat beliau bercengkrama dengan teman-temannya, tidak jarang aku terdiam seketika dan melihat ke diriku sendiri. Aku merasa Ibuk seperti aku, atau aku yang seperti Ibuk.

Beliau wanita pekerja keras saingan terberat Bapak di keluarga. Setiap hari Ibuk membanting tulang berkarya menciptakan pakaian-pakaian baru untuk orang lain. Aku tidak bilang Ibukku bekerja karena memang beliau tidak bekerja, namun menghasilkan karya. Tidak jarang, pakaian-pakaian yang beliau buat itu merupakan model ciptaannya sendiri. Kualitas jahitannya bisa kalian bandingkan dengan pakaian dari merk-merk ternama yang ada di supermarket. Aku berani bilang seperti ini karena memang hasil jahitan Ibukku sudah dipercaya dari kalingan bawah hingga menengah atas.

Beliau merintis usaha ini dari nol. Awalnya Ibuk hanya ikut membantu di usaha jahit kakaknya (Bu dhe), lama-kelamaan Ibuk menguasai ilmu jahit sendiri, dan akhirnya memulai usaha jahit di rumah. Dari aku belum lahir, sampai aku menyelesaikan kuliahku di bidang pendidikan ini. Hasil yang diperoleh dari usaha jahit Ibuk ini lumayan, cukup untuk membiayai keluarga dan membayar gaji 2 karyawan Ibuk. Hampir sebagian besar keuangan keluarga ditopang dari usaha jahit Ibuk ini.

Ibuk dilahirkan dari orang tua yang sangat disiplin. Dari kecil Ibuk dididik untuk bekerja keras dan hidup mandiri. Aku tahu semua ini dari cerita-cerita yang beliau tuturkan padaku. Sejak kecil ibu dibiasakan oleh ayahnya (Alm. Mbah Kakung) untuk bangun subuh. Mungkin itu yang membuat Ibuk tidak pernah mengeluh jika setiap hari harus lembur untuk menyelesaikan karya-karyanya. Ya, hampir setiap hari Ibuk menikmati waktu tidur malamnya yang sangat terbatas. Beliau tidak pernah mengeluh, hanya sesekali memintaku memijit sendi-sendi kakinya yang lelah mengayuh mesih jahit.

Ibukku ini termasuk dalam kategori ibu-ibu yang cerewet. Ketika beliau berbicara, yang bisa dilakukan hanyalah diam mendengarkan, karena kita tidak akan bisa menyelanya bicara. Aku curiga sifat ini sudah ada dari ibunya Ibuk (Mbah Putri) dan diturunkan ke Ibuk, karena saudara-saudara Ibuk (Bu Dhe dan Bu Lek) hampir sama cerewetnya. Dan sekarang sifat cerewet itu Ibuk wariskan kepadaku.

Segala yang dilakukan Ibuk cenderung grusa-grusu, kalau dalam Bahasa Indonesia artinya tergesa-gesa. Meskipun sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, namun ketika hari H pasti ada sesuatu yang membuatnya grusa-grusu. Aku tidak habis pikir bahwa hal ini pun aku alami. Aku baru menyadarinya di akhir masa kuliahku, tepatnya pada saat mengerjakan skripsi. Lembar-lembar revisi sudah aku kerjakan jauh-jauh hari, namun ketika tiba hari bimbingan, file revisi yang sudah aku kerjakan corupt, terkena virus, ban motor kempes, flatshoes entah kemana, atau masalah-masalah lain yang membuat aku grusa-grusu. Aku tidak suka pada sifat Ibuk yang satu ini, namun aku tahu pasti sulit menghilangkannya, seperti aku yang selalu berusaha menghilangkan sifat ini dan selalu gagal.

Selain itu, aku dan Ibuk sama-sama memiliki hati yang rapuh. Mudah tersentuh, mudah terharu, dan mudah menangis. Contoh simpelnya, kami memiliki kegemaran film yang sama, yaitu Bollywood. Kami sering menghabiskan waktu bersama menonton film Bollywood yang disajikan oleh salah satu stasiun TV Indonesia. Berjam-jam kami menikmati film bersama, dan ketika sampai adegan klimaksnya, kami pun menangis bersama. Meskipun film yang disajikan hanya itu-itu saja, namun kami masih saja mengeluarkan air mata di adegan klimaksnya. Hahaha.

Ini sungguh-sungguh memalukan dan tidak pantas untuk dipamerkan, namun aku senang sudah menjadi refleksi dari Ibuk. Aku ingin menjadikan refleksi pekerja keras Ibuk itu lekat di jiwaku, dan berharap bisa memperbaiki refleksi yang buruk menjadi lebih baik lagi.

Selamat Tinggal Masa Lalu, Selamat Datang di Dunia Baru!

Sekian tahun tanganku mengalami mati suri. Ya, mati suri untuk keahliannya dalam bidang menulis. Sebenarnya blogging bukan hal baru bagiku. Aku sudah mengenalnya ketika aku menginjak kelas X, kira-kira waktu itu usiaku 14 tahun. Ketika itu aku sudah lumayan akrab dengan blogger. Hampir setiap hari aku menuliskan keluh kesah masa-masa remajaku di sana.

Kalian mungkin bisa membayangkan gaya tulisanku pada masa itu. Tepat sekali! Tulisanku ampun-ampunan 4L4Y. 4L4Y merupakan fase peralihan dari Anak Baru Gede (ABG) ke remaja. Hampir sebagian besar Warga Negara Indonesia mengalami fase peralihan ini. Biasanya ditandai dengan gaya berpakaiannya, gaya rambutnya, gaya bahasanya, sampai gaya tulisannya. Hal itu pun berlaku bagi diriku. Usia 14 tahun merupakan fase peralihanku dari ABG menuju ke remaja seutuhnya. Waktu itu sedang ngetrend-ngetrendnya media sosial friendster dan blogger. Tak ingin ketinggalan, setiap hari aku menyisihkan uang jajanku untuk mengunjungi warnet agar dapat bermain friendster dan blogger.

Blog yang aku buat waktu itu sama dengan blog yang aku pakai sekarang. Usianya sudah hampir 7 tahun jika dihitung dari pertama aku membuatnya, namun usia tulisanku jika dikalkulasi bahkan tidak ada 1 tahun. Dulu, di awal usianya, setiap hari selalu aku rawat dan aku isi dengan tulisan-tulisan masa ABGku.

Ketika memasuki usia remaja, aku ditertawakan teman-temanku yang mengunjungi blogku dan membaca tulisan-tulisan 4L4yku. Bodohnya aku, rasa maluku waktu itu membuatku frustasi dan langsung menghapus semua postinganku di masa ABG. Ya, semua postingan tanpa menutup akun bloggerku. Pada tahun 2011, menginjak semester 4 bangku kuliah, aku mulai membuka account blogger ini lagi, dan memulai posting-posting dengan gaya baru, yaitu puisi. Kebetulan semester 4 itu aku mengikuti mata kuliah ekspresi tulis sastra, yang mewajibkan mahasiswanya selama satu semester menghasilkan karya sastra baik puisi, cerpen, maupun drama. Beberapa puisi yang aku tulis waktu itu sudah aku posting di sini, bagi yang berkenan, silakan dibaca :)

Sedikit rasa sesal mengisi hatiku ketika teringat tulisan-tulisanku di blog ini pada zaman ABG dulu telah aku lenyapkan. Aku seperti tidak memiliki sejarah tulisanku. Meskipun begitu, masih tersimpan ingatan caraku bercerita melalui tulisan di blog ini. Cerita-cerita klasik khas masa SMA, persahabatan, percintaan, bahkan pelajaran di sekolah, semua aku tuangkan dengan gaya ceriaku di sini. Sebenarnya sudah cukup bagus jika dilihat dari gaya berceritanya, namun jika dilihat dari gaya penulisannya, mohon maaf sekali anda kurang beruntung.

Fase peralihan ABG-remaja itu sudah aku lalui. Kini aku sedang dalam masa baru, yaitu peralihan remaja-dewasa. Mungkin dari segi penulisan sudah ada perubahan yang lebih baik, namun dari pola pikir justru cenderung lebih rumit. Seperti yang dikatakan tokoh kartun favoritku, Shinchan, "orang dewasa memang aneh" begitu pun yang aku rasakan sekarang. Semakin bertambahnya usia, semakin terbentuknya fase dewasaku, semakin aku menyadari bahwa orang dewasa memang aneh. Semoga dengan aku menyadari semua ini, dalam menjalani masa peralihanku selanjutnya akan menjadi lebih baik. Selamat tinggal masa lalu, selamat datang di dunia baru! :D