Selasa, 13 Januari 2015

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, dari Eka Kurniawan

Hai!
Selamat Pagi!
Ini pertama kalinya aku membaca novel dari Eka Kurniawan. Astaga! Baru sampai di bagian pertama novel ini, aku sudah dibawa melayang kemana-mana. Aku memang sempat melihat label "21+" di sampul novel ini. Awalnya aku kira label itu untuk peringatan bahwa konflik di dalamnya adalah konflik rumah tangga. Dan ya, tebakanku tepat sasaran! Hanya saja itu jauh, jauh, dan jauh di luar perkiraan.

Aku tak menyangka Eka Kurniawan segila itu. Diksi yang ia gunakan benar-benar di luar batas kebiasaanku. Dan itu hampir saja membuatku enggan melanjutkan. Aku butuh penyesuaian dengan mata dan daya serap pikiran. Yang benar saja! Aku terbiasa dengan Supernova, dan sekarang aku harus melahap tulisan gila (Maaf Om Eka, aku menyebut tulisanmu gila).
Setelah berhasil melakukan penyesuaian, aku akhirnya mampu menemukan alur cerita. Sebuah konflik yang terbilang rumit. Baiklah, mari kita bahas satu per satu.

Tema.
Menurutku, novel ini mengangkat tema kejantanan. Setiap peristiwa yang dihadirkan tercium aroma jantan. Ada perkelahian, ketidaksabaran, dan kehamilan. Semua itu ditampilkan dengan tegas dan elegan.

Tokoh.
Aku rasa Om Eka ini tidak berminat memakai nama-nama tokoh yang mudah dilupakan, beliau lebih memilih menggunakan nama-nama yang orisinil dan membekas di ingatan. Tokoh utamanya bernama Ajo Kawir. Anak dari seorang karyawan perpustakaan. Alih-alih hidup tenang berkecukupan, Ajo Kawir memilih hengkang dan menghampiri perselisihan. Sebagai tokoh utama, ia memiliki seorang sahabat yang senasib sepenanggungan. Namanya Si Tokek. Tokoh ini sangat setia menemani dan melindungi Ajo Kawir. Baginya, masa depan Ajo Kawir lebih penting dari segalanya. 
Selain Si Tokek, ada pula Iteung. Seorang bodyguard cantik yang pandai berkelahi. Dia satu-satunya wanita yang dapat membuat Ajo Kawir bertekuk lutut di hadapannya. Baik dalam pertarungan fisik, maupun pertarungan hati. 

Alur.
Novel ini memiliki alur yang cukup complicated. Alur mundur dipilih untuk menceritakan asal mula nasib buruk yang harus dijalani Ajo Kawir di sepanjang cerita novel. Lalu tiba-tiba Om Eka sudah beralih ke alur maju untuk menggambarkan keadaan Ajo Kawir di masa kini. Dan secara tiba-tiba pula, alur cerita sudah kembali lagi ke alur mundur untuk menceritakan kisah Ajo Kawir sebelum ia sampai di masa kini. 
Pada setiap bab, novel ini mengalami pemenggalan cerita yang sangat cepat. Hal itu bisa terjadi lebih dari 30 kali dalam setiap bab. Pemenggalan itu dilakukan untuk berganti setting, ada pula yang dilakukan untuk berganti alur.
Aku kurang paham ekspektasi Om Eka dengan melakukan itu semua, karena aku memang baru pertama kali ini berkenalan dengan karyanya.

Sudut Pandang.
Memilih menjadi orang lain dengan konflik serumit ini, menurutku pilihan yang sangat berani. Sebagai orang ketiga pelaku utama memang ada banyak keuntungan, meski tidak sedikit pula kesulitannya. Akan tetapi, Om Eka mampu menempatkan diri secara arif dan bijaksana. Congrats, Om!

Latar.
Latar tempat dalam novel ini tidak digambarkan secara jelas. Menurut pendapatku, masa remaja Ajo Kawir dihabiskan di tanah sunda, Bandung. Hal ini aku yakini dari beberapa tempat yang digambarkan, seperti area perkebunan dan kampung padepokannya. Awalnya aku mengira ini semua terjadi di tanah betawi, tapi setalah aku mengenal masing-masing tokoh yang dihadirkan, aku pun menanggalkan persepsi itu. 
Di sepanjang cerita "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas" ini, suasana yang dihadirkan cukup menegangkan. Hal ini sejalan dengan tema yang dipilih Om Eka, kejantanan. Ketegangan yang dimaksud terlihat dari konflik perkelahian, drama percintaan, bahkan ketegangan antara Ajo Kawir dengan "miliknya".
Latar waktu yang dipilih, sangat menunjang suasana yang ingin dihadirkan. Selain itu, waktu yang dihadirkan, menurutku hampir sesuai dengan realita. Misalnya, ketika Ajo Kawir ingin mencari keributan, ia berjalan ke belakang bioskop saat matahari hampir tenggelam. Di sana ia mendapatkan segerombolan remaja yang sedang nongkrong dan menggoda perempuan. Latar ini sesuai dengan realita masa kini.

Amanat.
"Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas" mengajar kepada kita bahwa diam bukan berarti tiada. Diam bukan berarti tak bisa. Diam bukan berarti lupa. Diam selalu lebih baik daripada ketamakan. Itu.

Setelah selesai membaca novel ini, lantas melihat ilustrasi covernya, kalian pasti akan tertawa getir. Sama seperti yang aku lalukan. Awalnya aku berpendapat gambar burung di sampul itu lucu, tp setelah tahu.. Ah, malangnya nasibmu.


Haha! Sudah segera beli bukunya Om Eka ini! Dijamin nggak bakal nyesel! :))

6 komentar:

  1. Diksinya emang bikin dahi berkerut...tapi mungkin itu enaknya ya jadi penulis cowok. Maen hantam vulgar, bikin bengong tapi ada pelajaran di sana. Tapi ada juga yang mencibir karya bang eka ini dan ga suka. Ya selera sih ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaps! Awalnya aku jg risih baca begituan, tp lama2 itu jd menarik, karena ditunjang dg konflik yg menarik pula. Sesekali kita butuh bacaan yg seperti ini 😝

      Hapus
  2. salam kenal yaa...
    mampir ke katamiqhnur.com donk..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita udah pernah kenalan kan sebelumnya? Tapi yaudah deh, salam kenal (lagi) juga yaa :D

      Hapus
  3. Baru mampir udah suka sama tulisannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasihhhh. Sering2 mampir jg boleh kok. Salam kenal :D

      Hapus

Pembaca Dermawan nulis komentar, Pembaca Sopan follow Ulfah Mey Lida's Blog, Pembaca Budiman nulis komentar dan follow Ulfah Mey Lida's Blog.