Sabtu, 31 Januari 2015

Bahkan Hujan Tak Pernah Turun Sendirian

Hai!
Hari ini aku ingin membagi rampak puisi terbaruku. Kali ini aku berdampingan dengan partner terbaikku, Jani. Seperti biasanya, rampak ini tidak sengaja kami lakukan.
Belakangan, hujan memang memicu keresahan. Terlebih bagi kaum parasit lajang. Dan berikut rampak puisi yang berdasar keresahan akan hujan dari parasit lajang.
-----
Bahkan hujan tak pernah turun sendirian
Dan hujan selalu meninggalkan sisa gerimisnya
Perlahan
Namun pasti akan hilang
Meski tetap menyisakan kedinginan yang begitu dalam
Hujan
Aku benci kepergian hujan
Tp aku juga benci kedatangannya yg memaksaku menggigil kedinginan
Pun memaksaku membuka lembar kenangan
Yang hampir kupaksa diam dalam ingatan
Bahkan diamnya kenangan tak mampu bersaing dengan lolongan anjing yg memecah nista malam
Aku tak menyalahkan hujan yang begitu kejam
Hanya sedikit menyesal akan kisah yang teramat mengganjal
Lebih dari itu
Penyesalan takkan mengubah apapun
Aku hanya sedikit kecewa dengan Tuhan
Yang berkali2 membiarkanku melumat kekeliruan
Pernah aku bertanya padaNya, apa ini yang Kau maksudkan?
Membuatku diam dalam kesengsaraan lantas bangkit dan kembali merasakan
Aku yang teramat lugu atau mereka yang selalu melucu?
Melucu katamu?
Lelucon macam apa?
Lelucon yg membuat pelakunya ikut terbahak dalam gelak tawa hingga memicu air mata
Atau malah mencipta murka dan kecewa?
Bahkan langit tak pernah berbisik
Dan jawaban itu dan pernah sampai kepadaku
Laksana hujan yang turun perlahan, aku pun memasrahkan diam-diam
Aku hampir lelah mengeja dan menerka
Aku sungguh tidak paham dengan segala skenarionya
Jika hujan dapat merada, maka kita masih dapat percaya
Sebatas itu saja
Andai aku mampu berbincang dengan Tuhan
Bahkan ketika aku sudah mampu menemukan alurnya, dia justru berbelok dan meninggalkanku di tengah jalan
Kenapa Dia selalu selucu itu
Kau mampu menangkap kelucuannya?
Aku bahkan ditinggalkan di puncak klimaksku
Seperti anak ayam yg kehilangan induknya
Aku tertawa karena aku teramat berduka
Duka yang tak mengenal cara bercerita
Duka yg memagut luka
Sesungguhnya Dia memang Maha Pemberi Tawa
Tawa
Sesuatu yg sungguh taksa
Yang kadang kala memaksa untuk mengenal kasta
Kasta
Dunia ini memaksa ku untuk cemburu
Cinta dan kasta nyatanya tak pernah berdusta
Persetan dengan rindu
Nyatanya segalanya pemeluk cemburu
Awalnya aku ragu
Namun akhirnya aku tau
Segala yang kurawat hanya rasa yang tabu
Mereka yang tak tahu mungkin mengira ini keliru
Nada-nada sendu yang mengalir setiap waktu
Nyatanya bukan untuk penawar haru
Hingga aku lupa rasanya bercumbu
Aku lebih dari paham jika semuanya adalah palsu
Hingga satu demi satu melucuti bahagiaku
Aku belum jengah
Aku masih lengah
Namun aku lemah
Aku perlahan lelah
Harusnya mereka tau seperti apa rasanya malu
Menjadi sesuatu yang dianggap benalu
Persetan dengan mereka
Aku hanya ingin dia
Dia yang selalu ada
Untuk bersama mengeja bahagia
Tidakkah itu sederhana tanpa mengada-ada?
Terlalu muluk-mulukkah inginku?
Sungguh pun tak pernah ada udang di balik batu
Sekedar inginku
Demi sebuah kehidupan baru
Aku lelah cemburu dengan waktu
Yang tak perlu menunggu untuk dapat bertemu
Yang lebih dulu mengerti tanpa harus berlalu
-----
ps: Yang bercetak miring itu sajak dariku.

6 komentar:

  1. Dan yang tidak bercetak miring adalah karyaku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyeee. Pas udah digabung tetep nggak mengecewakan yee. Haha

      Hapus
  2. Memang hujan sering jadi pemicu inspirasi ya, aku juga suka menggalaukan (re:terinspirasi) banyak hal haha
    kunjung balik ya ke blog ku www.frondyff.blogspot.com
    makasih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hujan, gerimis, pelangi, itu diksi yang membuat hati dan jari gatal. Hahay!

      Hapus

Pembaca Dermawan nulis komentar, Pembaca Sopan follow Ulfah Mey Lida's Blog, Pembaca Budiman nulis komentar dan follow Ulfah Mey Lida's Blog.