Sabtu, 04 Januari 2014

Rampak Puisi: Temaram Rindu

Hai!

Malam ini secara tidak sengaja aku melakukan rampak puisi bersama Mas Hasan. Hahaha. Rampak puisi kali ini bukan rampak biasa, kami menulis puisi secara bergantian, sambung menyambung, bergantian pada tiap baitnya. Awalnya Mas Hasan ini memberiku tantangan untuk menulis puisi (yaelah anak bahasa ditantang, men!), dia penasaran dengan puisi buatanku. Well, aku terima tantangan itu, aku tuliskan satu bait puisi bernada gerimis. Dia bilang puisiku bagus. Tidak puas dengan pujian itu, aku tantang balik Mas Hasan untuk meneruskan bait puisiku tadi. Jadilah kita berbalas bait puisi. Tidak terlalu panjang, namun setelah ditulis ulang dan dijadikan satu, hasilnya lumayan juga. Penasaran? Ini dia!

(Aku)
Gerimis memulai malam ini dengan manis yang tipis.
Bukan aku yang mendambanya, namun dia datang seolah tak pedulikan senja di depan.
Dia jatuh, melewati setiap jengkal awan yang hampir menjelma pelangi.

(Mas Hasan)
Ada hangat yang hadir, ada senyum yang tersingkir.
Kita bersama memaki rindu.
Pada siapa kita mengadu.

(Aku)
Selalu begitu.
Gerimis manis dengan buaian angin tipis.
Membangunkan rindu yang mengalun sendu di dasar hatiku.
Siapa pula yang mendambanya.
Bahkan sedetik pun tak pernah aku bernafas dengan helaan namanya.
Namun dia tetap datang, tanpa aku tawarkan. 

(Mas Hasan)
Termaram telah usai.
Diganti bintang gemintang lampu jalanan.
Gerimis sekali lagi menyeka wajah kota yang menua.
Adakah rindu dititipkan langit melalui rinai.
Aku masih menunggu.


Kemudian aku menemukan gambar ini di Google. Sepertinya cocok untuk melengkapi rampak puisi kami :D

Sumber: statik.tempo.co

Bagaimana? Ranger Belalang pandai berpuisi kan? :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pembaca Dermawan nulis komentar, Pembaca Sopan follow Ulfah Mey Lida's Blog, Pembaca Budiman nulis komentar dan follow Ulfah Mey Lida's Blog.