Jumat, 06 Desember 2013

Tere Liye: Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah


Judul Buku             : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Pengarang              : Tere Liye
Penerbit                 : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit          : April 2012, cetakan ketiga
Jumlah Halaman     : 512 halaman
Harga Buku           : Rp 72.000,-

“Perasaan itu tidak sederhana satu tambah satu sama dengan dua. Bahkan ketika perasaan itu sudah jelas bagai bintang di langit, gemerlap indah tak terkira, tetap saja dia bukan rumus matematika. Perasaan adalah perasaan.”

Mengesankan! Mungkin itu ungkapan yang tepat untuk novel ini. Petuah cinta, kehidupan, kesehatan, bahkan keilmuan bisa kita dapatkan di sini.

Borno, pemuda bersahaja dari tepian Sungai Kapuas, yang hidup sebagai pengendara sepit. Sepit (dari kata speed) merupakan sebuah perahu kayu, sarana transportasi umum yang biasa digunakan untuk menyeberangi Sungai Kapuas. Kisah ini bermula ketika Borno harus kehilangan ayahnya saat ia masih berusia 12 tahun. Ayahnya meninggal karena terkena sengatan ubur-ubur ketika sedang mencari ikan. Dan betapa mulianya hati Ayah Borno. Beliau mendonorkan jantungnya sebelum meninggal. Ia bahkan tidak meminta uang sepeser pun dari hasil donor itu. Hebatnya, Borno mewarisi kebaikan dan ketulusan hati Ayahnya itu.

Borno tinggal bersama ibunya di rumah sederhana di tepian Sungai Kapuas, Pontianak. Sebelum menjadi pengendara sepit, ia pernah bekerja di pabrik karet, SPBU, bahkan menjadi penjaga pintu masuk kapal feri. Tak disangka, justru menjadi pengendara sepit inilah, Borno menemukan cinta sejatinya. Ketika sedang menarik sepit, ia menemukan sepucuk angpau merah tergeletak di atas sepitnya. Alih-alih membukanya, Borno mencari pemilik angpau merah itu dan berniat ingin mengembalikannya. Ternyata angpau merah itu milik gadis keturunan Cina bernama Mei. Dari sinilah cinta Borno bersemi. 

Hari-hari berikutnya, Borno semakin penasaran dengan gadis pemilik angpau merah itu. Ia menghafal bahwa tiap pukul 17.15 pagi, gadis itu menyeberangi Sungai Kapuas menggunakan sepit. Maka karena rasa penasaran dan keinginan untuk bertemunya itu, setiap pagi Borno selalu antre narik sepit diurutan tiga belas. Bagaimana pun caranya, dia harus bisa antre di urutan itu. Karena menurut perhitungannya, antrean nomor tiga belas tepat dengan jadwal menyeberang gadis itu.

Mei sebenarnya tinggal di Surabaya, ia datang ke Pontianak untuk praktik mengajar di salah satu sekolah yayasan. Saat kebiasaan menyeberang Sungai Kapuas dengan diantar sepit Borno itu berubah menjadi sebuah kedekatan, hal yang tidak diingankan terjadi. Masa praktik Mei di Pontianak telah habis, dan ia harus segera kembali ke Surabaya. Mereka pun berpisah. Ketika dalam masa sulit itu, Borno bertemu dengan Sarah, seorang dokter gigi yang masih sangat muda. Tak disangka, ternyata keluarga Sarah mempunyai hubungan khusus dengan keluarga Borno di waktu dulu. 

Setelah setahun lebih Borno menunggu, akhirnya kabar baik dari Mei pun datang. Ia kembali ke Pontianak. Ia kembali mengajar di sekolah yayasan tempat dia praktik dulu. Betapa bahagianya hati Borno mendengar kabar tersebut. Rutinitas seperti pada waktu pertama kali bertemu pun terulang kembali. Mei datang ke dermaga pukul 07.15 pagi dan sepit Borno berada di antrean nomor tiga belas. Semakin hari semakin dekat saja hubungan mereka, walaupun sebenarnya belum ada yang mengungkapkan perasaan masing-masing. 

Pada satu ketika, Mei dan Borno berencana untuk berkeliling Pontianak bersama. Pukul 09.00 pagi, mereka janjian bertemu di dermaga sepit. Karena tidak ingin terlambat, Borno berangkat lebih awal. Dengan perasaan gembira Borno menunggu pujaan hatinya itu. Namun hingga pukul 09.30 Mei tak kunjung datang. Perasaan Borno berubah menjadi cemas. Tidak biasanya Mei terlambat. Pukul 10.00 Mei masih belum datang. Akhirnya Borno memutuskan untuk pulang saja. 

Berhari-hari, berminggu-minggu, masih belum ada kabar dari Mei. Hingga pada suatu malam, Mei tiba-tiba menemui Borno. Namun ia datang dengan membawa kabar buruk. Kabar yang sama sekali tidak diinginkan Borno. 

***

Tidak seperti novel-novel percintaan lainnya, novel ini datang dengan membawa kisah cinta yang bersahaja. Berangkat dari kesahajaannya itu Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah mampu mengena di hati para pembacanya. Tanpa kata-kata puitis nan romantis, kisah Borno dan Mei mampu menginspirasi hanya dengan tingkah mereka yang lucu dan manis. Pembaca seolah tidak sedang membaca sebuah novel namun dibimbing untuk mengahadirkan memori kisah percintaan masa remaja. Semua orang pastilah pernah mengalaminya. Hati berdebar ketika akan bertemu dengan sang pujaan, malu-malu saat akan memulai pembicaraan, curi-curi pandang ketika sedang berduan, semua itu digambarkan dengan sederhana namun sangat akrab di hati para pembaca. Tanpa kita sadari, beragai realitas seperti ini sering sekali terjadi dalam kehidupan kita. Lingkaran-lingkaran tak kasat mata yang manghubungkan kita satu sama lain, seringkali muncul secara ajaib tanpa pernah diduga. Pernahkah Anda menyadari bahwa ada banyak benang merah yang muncul terlalu tiba-tiba ketika kita mengenal seseorang. Dan benang-benang itulah yang membangun kisah antara Borno dan Mei.

Dengan bahasa yang sederhana, Tere Liye mampu membuat pembacanya tertawa, tersenyum, tersipu malu, bahkan meneteskan air mata. Pembaca seakan terbawa alur cerita dan selalu ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dalam novel ini, alur maju terlihat sangat dominan, walaupun sesekali Tere Liye menampilkan kilas balik atau alur mundur. Hal itu sudah menjadi ciri khas di setiap karyanya. Bahasa yang ringan membuat pembaca tidak perlu berpikir keras untuk mencerna maksud dari penulis. 

Tak hanya kisah cinta, melalui novel ini kita juga menerima pelajaran hidup yang tak kalah inspiratif. Jika Anda sering membaca karya-karya Tere Liye, Anda pasti hafal bahwa dia selalu menampilkan sosok malaikat yang mampu menginspirasi. Begitu juga dengan novel ini. Tere Liye menghadirkan sosok Pak Tua yang selalu memberi petuah berdasarkan pengalamannya. 

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah mengajarkan kepada kita bahwa cinta itu bukan sekedar kata-kata puitis dan rayuan gombal, melainkan cinta adalah perbuatan. Cinta sejati adalah perjalanan, tidak pernah memiliki ujung, tujuan, apalagi hanya sekedar muara. Kita selalu bisa memberi tanpa sedikit pun rasa cinta, tetapi kita tidak akan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi. Pesan yang ingin disampaikan yaitu ketika kita sedang banyak pikiran, gelisah, kita selalu punya teman dekat yang bisa jadi penghiburan, bukan sebaliknya tambah dihiraukan. Selain itu, novel ini juga menyampaikan bahwa sepanjang kita punya rencana, jangan pernah berkecil hati.

Pada dasarnya novel ini hampir tidak ada kelemahan. Hal itu disebabkan karena penulis secara cerdas dan apik menggambarkan keruntutan alur, deskripsi setting, dan eksplorasi kekuatan karakter. Dari segi isi, novel “Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah” ini hampir tidak ada cela. Namun terdapat sedikit kekurangan pada segi tampilannya. Cover dari novel ini terkesan kurang menarik. Dari pemilihan warna, bentuk huruf, dan ilustrasi gambar belum semenarik kisah di dalamnya.  

4 komentar:

  1. ini buku yang recommended untuk genre tentang cinta
    membangun, bukan membuat kita menangis. membahagiakan, kadang penuh tawa, menceritakan bahwa cinta itu sederhana, tak perlu berbagai kata, cukup satu perbuatan yang tulus.

    pembagain peran antar tokohnya juga pas, meski mungkin Pak Tua sering 'overexposed' dan terlihat 'dewa', tp di scene lain terlihat juga sisi 'normal'nya haha

    intinya, keren!!

    btw main ke blog saya juga yaa
    rainbowmaniswriting.blogspot.com

    BalasHapus

Pembaca Dermawan nulis komentar, Pembaca Sopan follow Ulfah Mey Lida's Blog, Pembaca Budiman nulis komentar dan follow Ulfah Mey Lida's Blog.