Sabtu, 14 Desember 2013

Katarsis: Psychology Thriller by Anastasia Aemilia

Judul: Katarsis
Pengarang: Anastasia Aemilia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: April 2013
Jumlah Halaman: 261 halaman
Harga Buku: Rp45.000,00

Gila! Ini novel "gila"! Novel ini hampir membuat saya gila! Baik dari penyajian konflik, penggambaran alur, bahkan para tokohnya, semua membuat gila!

Tara, seorang gadis cantik yang selalu menolak dipanggil Tara bahkan sejak dia baru dilahirkan itu memiliki kepribadian yang menarik. Kata pertama yang dia ucapkan saat dia baru belajar bicara adalah "bukan", bukan kata "mama" atau "papa" selayaknya bayi pada umumnya. Dia juga selalu enggan memanggil kedua orangtuanya dengan panggilan "mama" dan "papa", Tara justru memanggil orangtuanya dengan nama mereka masing-masing, Tari dan Bara. Ya, nama Tara merupakan penggabungan dari nama kedua orang tuanya. Dan karena itulah Tara tidak menyukai namanya. Tara juga tidak menyukai orang lain memanggilnya "Tara", bahkan orangtuanya sendiri. 

Keanehan lain yang Tara tunjukkan yaitu pada saat gigi susunya tanggal di malam hari ketika Tari dan Bara sedang terlelap. Tara menangis kesakitan dan berteriak memanggil Tari, namun Tari dan Bara tidak mendengar teriakan Tara, sampai pada akhirnya Tara kesal dan membanting gelas kosong yang ada di meja tempat tidurnya. Suara gelas yang membanting ke lantai itu berhasil membagunkan Tari dan Bara. Mereka langsung berlari menuju kamar Tara. Tari yang pertama kali masuk. Saat Tari berjalan mendekati Tara yang masih tergeletak di kasur, Tari tidak memperhatikan pecahan gelas yang ada di lantai, sehingga kakinya menginjak pecahan gelas itu dan membuat langkahnya limbung. Bara yang melihat kejadian itu langsung mendekati Tari tanpa memperhatikan Tara yang masih meraung kesakitan. Melihat itu, Tara semakin kesal dan membuat rasa sakitnya itu semakin terasa sakit. Akhirnya Tara memutuskan untuk berlari mengambil air untuk berkumur sendiri. 

Selesai berkumur dan meredakan sakit di giginya itu, Tara melihat Tari dan Bara berada di puncak tangga, bermaksud turun untuk menyusulnya. Tara melihat kaki kiri Tari sudah terbalut kain putih dan berjalan dengan dipegangi Bara. Melihat itu, Tara justru berlari menaiki tangga tanpa memedulikan mereka. Saat sampai di samping Tari, Tara menginjak kaki Tari, tepat ketika kaki sebelahnya sedang diangkat untuk melangkah. Tentu saja Tari langsung jatuh berguling di tangga, membuat suara benturan beberapa kali, suara tulang retak, dan Tari akhirnya meninggal di tempat.

Dari kejadian itu, Tara berhasil menyingkirkan Tari dan sekaligus Bara, karena Bara memutuskan untuk pergi dan menitipkan Tari kepada keluarga adik laki-lakinya, yaitu Arif dan Sasi Johandi. Di keluarga Johandi inilah Tara dibesarkan. Tara menyukai keluarga ini karena Arif dan Sasi lebih sering memanggilnya "Nak", bukan nama yang selama ini dia benci. Arif dan Sasi memiliki anak laki-laki yang bernama Moses. Dia tujuh tahun lebih tua dari Tara. 

Ketika Tara baru saja dibelikan sepeda baru oleh Arif dan Sasi, Moses diminta untuk mengajarinya bersepeda di taman. Saat belajar bersepeda itu, Tara tidak mengira bahwa Moses akan tega melepaskan pegangan pada sepeda Tara, saat sepeda itu meluncur di jalan turunan. Hal itu membuat sepeda Tara menabrak pohon besar dan tubuhnya terpelanting dari sedel, kepalanya membentur batang pohon dan berdebam di tanah. Banyak orang di taman yang memperhatikannya, namun yang menghampirinya justru seorang anak laki-laki bertopi merah. Dia membantu Tara berdiri dan membawanya berjalan ke tepian. Ketika anak laki-laki itu bertanya siapa nama Tara, Tara hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan itu. Kemudian anak laki-laki itu berhenti berjalan dan berjongkok di samping Tara. Dia bertanya tentang sakit di tubuh Tara, lalu mengambil sesuatu dari kantongnya. Sebuah koin lima ratus rupiah. Anak itu kemudian berdiri tegak dan meletakkan koin itu di telapak tangan Tara sambil berkata,

"Mamaku bilang, kalau kita lagi sakit, kita harus pegang koin agar sakitnya hilang."

Tara berpikir itu adalah hal bodoh. Mempercayai koin untuk menyembuhkan rasa sakit. Tara menganggap anak laki-laki itu bodoh karena percaya pada koin lima ratus rupiah itu. Dan menjadi semakin bodoh ketika anak itu membagi kebodohannya pada Tara. Hal bodoh yang menjadi sugesti itu ternyata mampu membekas di pikiran Tara cukup lama dan mengantarkannya menuju harta karun yang tidak pernah terpikirkan olehnya.

***

Novel Katarsis ini menghadirkan kisah penuh teka-teki dengan banyak kejutan di dalamnya. Teka teki yang membuat penasaran itu disajikan melalui potongan demi potongan kisah. 

Sesuai dengan judulnya, "Katarsis", novel ini menghadirkan kisah tentang cara pengobatan orang yang berpenyakit saraf dengan membiarkannya menumpahkan segala isi hatinya dengan bebas. Tokoh sentral dalam novel ini yaitu Tara. Diceritakan memiliki kepribadian aneh, sikap yang tidak wajar, dan terkadang brutal.

Dengan gaya bercerita orang pertama pelaku utama, Anastasia membangun karakter tokohnya secara misterius. Anastasia lebih sering menunjukkan pikiran tokoh utamanya untuk menegaskan peristiwa yang ingin dia ciptakan. Hal ini cukup berhasil membuat pembaca geregetan dan penasaran untuk segera melanjutkan membaca kisahnya. Dalam novel ini, Anastasia beberapa kali mengubah sudut pandangnya, namun tetap konsisten pada ke-akuan-nya. Dengan begitu, pembaca jadi lebih memahami jalan cerita, juga karakter dari masing-masing tokoh.

Pilihan bahasa yang Anastasia gunakan juga cukup menarik. Bahasa sehari-hari yang tegas dipilihnya untuk menggambarkan peristiwa demi peristiwa dalam novel ini. Cara penuturan yang santai, jujur dan apa adanya menambah peristiwa itu menjadi semakin mencekam. Salah satu contoh, pada saat Ello akan memotong jari kelingkingnya, Anastasia menuliskan "Aku mengambil gunting dan menjepit kelingkingku di sana. Mulai ada sayatan. Kulit luar menjadi sobek. Kakiku bergerak-gerak tak sabaran. Jemariku menekan dan menekan gunting itu." Dan begitulah, berkali-kali Anastasia menggambarkan peristiwa tragis dengan santai dan polosnya.

Tokoh psikopat yang diciptakan Anastasia dalam novel ini tidak cukup hanya satu, namun beberapa. Dan dari kesemuanya itu saling berhubungan. Ini sesuatu yang tidak dapat diduga sebelumnya. Bahkan salah satu tokoh yang semula terlihat hanya sebagai tokoh sampingan, ternyata malah menjadi akar dari semua peristiwa yang dihadirkan dalam novel ini. Tokoh yang semula menjadi sorotan, justru tidak ada kaitannya dan hanya menjadi tokoh sampingan saja.

Dari awal hingga akhir, Katarsis ini terus menghadirkan teka-teki yang sulit untuk dipecahkan. Bahkan pada tahap penyelesaiannya pun, Anastasia masih mempertahankan teka-teki itu. Dan lengkaplah teka-teki itu ketika Anastasia menutup kisah ini dengan ending yang terbuka.

Ada yang sudah membaca novel ini? Share komen yuk!

2 komentar:

  1. Novel keren yang nampaknya benar-benar akan membuat gila. Gue pertama kali dibuat gila oleh Semusin, dan Semusin Lagi. Itupun wajib dibaca. Yang ini. Agak mengerikan karena thriller. Hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, aku belum baca Semusin! Thanks referensinya! :D

      Hapus

Pembaca Dermawan nulis komentar, Pembaca Sopan follow Ulfah Mey Lida's Blog, Pembaca Budiman nulis komentar dan follow Ulfah Mey Lida's Blog.