Senin, 01 September 2014

Curhat (Tertunda) Seorang Wali Kelas

Hai!

Selamat Pagi!

Bagaimana kabar kalian? Kerjaan di kantor apa kabar? Berat badan turun berapa kilo? :))
Semoga apa yang aku harapkan sama dengan harapan kalian semua. :D

Ooh maafkan aku kalo di awal postingan sudah mengingatkan kalian pada kantor. Yah tapi itulah yang akan aku bahas kali ini. Kantor dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Hmmmm.

Pada Tahun Ajaran Baru ini, aku diberikan tanggung jawab untuk menjadi wali kelas XI di sekolah swasta, tempatku mengabdi. Syukur alhamdulillah, karena sudah dipercaya Bos Besar untuk menjadi wali siswa-siswi kelas XI yang notabene berpostur tubuh lebih besar dariku. Shock? Tentu saja! Tidak percaya diri? Jelas Ya! Tapi ini tugas dan amanat, jadi aku harus SIAP! Bos Besar memilihku pasti sudah mempertimbangkannya masak-masak. 

Kelas XI Teknik Kendaraan Ringan dan Persiapan Grafika ini kalau ditotal keseluruhan siswanya memang tidak terlalu banyak. Namun hal itu belum bisa membuat kelegaan di hatiku ketika melihat daftar permasalahan mereka di catatan guru BK. Masha Allah. Tidur di kelas. Ketahuan merokok. Terlambat masuk sekolah satu minggu berturut-turut. Di kantin saat pelajaran berlangsung. Membolos. Lompat pagar. Tidak masuk tanpa keterangan berturut-turut.
Belum lagi catatan dari petugas TU berkaitan dengan daftar tunggakan administrasi siswa kelas XI. Masha Allah.
Dan seketika itu aku lemas tak berdaya. Wali kelas baru dengan riwayat permasalahan siswa tahun lalu. Baiklah, aku harus mempersiapkan segalanya dengan ekstra.

Sederet nama siswa bermasalah di kelasku sudah aku kantongi. Hal pertama yang aku lakukan adalah mengamati, memahami, dan membuktikan catatan-catatan "merah" itu. Waktu dua minggu pertama cukup untukku mendapatkan jawaban itu. Semua catatan itu terbukti benar, dan belum ada perubahan yang signifikan dari mereka. Langkah berikutnya, aku menemui wali kelas mereka yang terdahulu untuk mengkonfirmasi sekaligus berkonsultasi. Beliau ini sudah paham betul bahwa aku adalah seorang pemula. Oleh karenanya beliau tak segan membagi ilmu dan nasihat sebagai seorang wali kelas. Syukurlah.

Rutinitas dan irama kerja seorang wali kelas mulai bisa aku ikuti. Sebetulnya menyenangkan, hanya sedikit melelahkan ketika harus mendengar laporan guru-guru mapel tentang kondisi siswaku saat KBM mereka. Melelahkan karena yang mereka laporkan hampir semuanya sama. Awalnya aku geram mendengar itu semua. Sebagai seorang wali kelas, aku mempunyai kewajiban untuk menertibkan mereka. Beberapa prosedur penertiban yang berlaku di sekolahku sudah aku ikuti. Hingga pada akhirnya Waka Kesiswaan memutuskan untuk mengirimkan surat panggilan orang tua siswa tersebut.

Akan tetapi, apa yang terjadi selanjutnya? Tak seorang pun Wali Murid yang hadir memenuhi panggilan tersebut. Ketika aku konfirmasi, ternyata anak-anak mereka yang melarang mereka datang ke sekolah. Harus bagaimanalah aku?

Hal-hal semacam ini sering membuatku terbang ke lamunan masa lalu. Dulu ketika aku ada di posisi siswa, apa Wali Kelasku juga semacam ini? Dulu waktu aku sering terlambat masuk sekolah, apa Wali Kelas juga selalu mengamatiku? Ooh, sungguh maafkan aku Bapak, Ibu. Aku sungguh tidak tahu bahwa selama bertahun-tahun aku sudah menjadi salah satu beban di pikiranmu. 

Aku sungguh tidak ingin menyebut ini sebagai sebuah karma. Aku hanya beranggapan ini semua sekedar pelajaran berharga untukku sebagai seorang guru. Agar aku juga dapat merasakan apa yang dirasakan Wali Kelasku dulu. Itu.

Nih Ekspresi Wali Kelas Baru :D

Bagi kamu yang saat ini masih menjadi siswa dan siswi, pahamilah bahwa Bapak dan Ibu guru adalah orang tuamu di sekolah. Mereka yang menjaga, merawat, dan membesarkan kamu. Hargai mereka, sebagaimana kamu menghargai Bapak dan Ibu kandungmu. Itu saja.

Semoga bermanfaat. CIAO!

2 komentar:

Pembaca Dermawan nulis komentar, Pembaca Sopan follow Ulfah Mey Lida's Blog, Pembaca Budiman nulis komentar dan follow Ulfah Mey Lida's Blog.