Selasa, 24 Juni 2014

Ujung-ujungnya Politik!

Hai!

Selamat malam!

Membaca buku bagaikan menyalakan api, setiap suku kata yang dieja akan menjadi percik yang menerangi.” –Victor Hugo-


Sungguh bukan pemandangan yang menyenangkan melihat pemuda-pemudi desa menjalankan rutinitas keluarga, membuat batu bata. Bukan karena mereka yang bertelanjang dada, namun karena pendidikan yang tidak ada. Faktor pemicunya tidak lain seperti orang Indonesia pada umumnya, biaya. Dengan dalih keterbatasan ekonomi keluarga dan biaya sekolah yang tidak ada, mereka “dipaksa” menjalankan rutinitas regenerasi membuat batu bata. 

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan rutinitas tersebut. Sebagai seorang anak, tentu perbuatan yang mulia menjalankan perintah dan amanah orang tua. Akan tetapi jika menilik pada usia mereka, perasaan miris itu datang secara tiba-tiba. Mereka yang seharusnya duduk di bangku kelas, malah rela berjongkok di bawah terik yang menganga. Mereka yang seharusnya lincah menggores kertas dengan tinta,  malah cekatan memainkan cetakan batu bata. Dan mereka yang seharusnya mengikuti rutinitas menyimak, belajar, mengerjakan, dan ujian, malah menjalankan rutinitas menyiapkan, mencetak, membersihkan, dan membakar. Itu mereka lakukan setiap hari sejak pagi buta.

Miris memang, namun itu hanya sepenggal kisah tentang anak pembuat batu bata. Ada pula, mereka yang masih dalam usia sekolah justru memilih hengkang dari sekolah dan tertarik mengikuti rutinitas seperti teman-teman satu  kampungnya. Padahal dari segi ekonomi, mereka terbilang mampu. Barangkali mereka merasa malu karena masih memakai seragam di saat teman-temannya sudah mulai menghasilkan uang. Malu dan akhirnya membuat mereka frustasi. Frustasi yang kemudian membuat mereka duduk berlama-lama di warung kopi. Mencecap manis di antara gumpalan kopi serta menghirup asap nikotin.

Mungkin ini merupakan satu di antara ratusan masalah yang ada di negeri tercinta Indonesia ini. Mengentaskan kemiskinan dan buta aksara sudah menjadi program sejak zaman Megawati. Akan tetapi, kenyataan yang terjadi, masyarakat miskin semakin miskin, dan yang bodoh tetap tak mau bergeming. Lantas, kepada siapa lagi kami menggantungkan masa depan negeri? Kepada Bapak Jokowi? Atau pada partai Merah Putih yang sedang berkoalisi?

Entahlah, aku sendiri tak mengerti kenapa postingan kali ini menjadi tak menentu begini. Mungkin kita bisa mengetahui jawabannya setelah pesan-pesan berikut ini. CIAO!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pembaca Dermawan nulis komentar, Pembaca Sopan follow Ulfah Mey Lida's Blog, Pembaca Budiman nulis komentar dan follow Ulfah Mey Lida's Blog.