Laman

Tampilkan postingan dengan label Lomba Ngeblog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba Ngeblog. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Desember 2013

Kaum Hawa, Jangan Sepelekan Sakit Perutmu!

Hai!

Bagaimana kabar kalian hari ini? Sehat semua kan? Mudah-mudahan tidak sedang sakit perut seperti yang baru aku alami sekarang. Sakit perut bulanan. Kaum hawa pasti tahu maksudnya.

Kali ini aku ingin membagi cerita berkaitan dengan sakit perut langganan wanita setiap bulannya. Sakit perut bulanan ini timbul akibat berprosesnya darah kotor di dalam tubuh wanita. Darah-darah kotor ini berproses sedemikian rupa sehingga dapat keluar dan disebut sebagai darah menstruasi. Itu penjelasan sederhana berdasarkan pengetahuanku sendiri.



Ibuku memiliki seorang karyawati yang membantu bisnis rumahannya sehari-hari. Aku memanggil karyawati ibuk ini "Mbak Al". Sudah lama Mbak Al ikut bekerja dengan Ibuk. Mbak Al ini memiliki siklus menstruasi yang tidak beres. Aku sering sekali mendapati Mbak Al terkapar di mushola rumah setiap kali dia menstruasi. Aku sendiri, setiap kali menstruasi memang selalu sakit perut, namun tidak pernah sampai jatuh terkapar seperti Mbak Al itu. Umumnya, wanita mengalami menstruasi itu selama kurang lebih satu minggu. Selama satu minggu itu, biasanya aku mengalami sakit perut hanya di tiga hari pertamanya saja. Akan tetapi, hal ini tidak berlaku bagi Mbak AL. Dia terkapar di tempat tidur selama satu minggu penuh karena sakit perutnya itu. Ibuku selalu curiga dengan yang dialami Mbak Al dan menyuruhnya untuk memeriksakan ke dokter. Berkali-kali Ibuku membujuk Mbak Al untuk ke dokter, namun dia selalu menolak dengan alasan takut. Dia lebih memilih untuk menahan rasa sakitnya itu setiap bulan. Dari pihak keluarganya sendiri tidak ada yang perhatian dengan sakit yang dialaminya itu. Yang cerewet justru Ibuku, atasannya.

Karena geregetan, akhirnya Ibuk membawa paksa Mbak Al ke dokter dengan diantar bapak. Pertama kali, Ibuk membawanya periksa ke dokter umum. Alangkah terkejutnya mereka ketika dokter menjelaskan bahwa Mbak Al terindikasi tumor kandungan. Dokter kemudian meminta untuk memeriksakannya ke dokter spesialis agar dapat diketahui lebih jelas detail penyakitnya. 

Selang seminggu kemudian, Ibuk kembali membawa paksa Mbak Al untuk periksa ke dokter spesialis kandungan. Di sana, Mbak Al diminta untuk melakukan proses rongent. Dari hasil rongent ini diketahui bahwa tumor kandungan itu menempel pada dinding rahim Mbak Al. Hal inilah yang menyebabkan setiap kali Mbak Al menstruasi, dia mengalami sakit perut yang luar biasa. Waktu itu dokter tidak menyarankan untuk dilakukan operasi, dokter justru malah menggoda Mbak Al dengan memberi saran untuk segera menikah. Katanya, kalau menikah dan punya anak nanti, tumor itu akan "menghilang" dengan sendirinya. Kebetulan Mbak Al memang sudah cukup umur dan belum menikah. Dokter menjelaskan, sebenarnya bisa saja kalau tumor itu dioperasi, namun dokter tidak ingin mengambil resiko kalau selaput dara Mbak Al sobek. Seperti yang kita tahu, budaya Indonesia masih mengutamakan keperawanan seorang wanita di atas segalanya. Kalau dilakukan operasi dan selaput darahnya sobek, maka operaasi itu tidak hanya mengambil tumor Mbak Al, tetapi juga merenggut keperawanannya. Maka dari itulah, dokter hanya bisa memberikan obat penghilang rasa sakit dan obat untuk meminimalisasi perkembangan tumor. 

Hari-hari berikutnya, terlihat perkembangan yang cukup membaik, karena Mbak Al patuh mengonsumsi obat yang diberikan dokter secara rutin. Setiap kali menstruasi, hanya sehari dua hari saja Mbak Al mengeluh kesakitan pada perutnya. Hari demi hari hingga bulan demi bulan mulai berganti, Mbak Al sudah jarang mengeluh. Hingga tiba-tiba Mbak Al bercerita kepada Ibuk bahwa dia sekarang justru jarang menstruasi. Siklusnya menjadi tiga bulan sekali atau bahkan lama sekali tidak menstruasi. Ibuk kembali tidak tenang dan meminta Mbak Al untuk memeriksakannya ke dokter lagi. Dan seperti biasa, Mbak Al menolak. Dia justru ingin berpindah ke pengobatan alternatif seperti yang dibicarakan teman-temannya. Dia mendengar dari temannya bahwa pengobatan alternatif di Pak Anu dapat menyembuhkan penyakit apapun. Waktu itu Ibuk berpikir memang tidak ada salahnya mencoba pengobatan alternatif, karena Mbak Al memang menolak untuk dioperasi dan juga belum memiliki calon suami. Jadilah Mbak Al, Ibuk, dan Bapak, pergi ke pengobatan alternatif Pak Anu.

Aku tidak tahu pasti, bagaimana pengobatan alternatif ini dilakukan, berdasarkan cerita Ibuk, setiap kali berobat ke sana, Mbak Al selalu dipijat di bagian perutnya. Seminggu dua kali Ibuk rutin mengantar Mbak Al berobat ke Pak Anu. Hingga beberapa bulan akhirnya Pak Anu menyatakan bahwa proses pengobatan itu berjalan lancar dan akan segera berakhir, tinggal satu kali pengobatan lagi maka penyakit Mbak Al akan sembuh. Pengobatan terakhir tidak dilakukan seperti biasanya, sebelum melakukan proses pengobatan, Pak Anu meminta persetujuan kepada Mbak Al, serta Bapak dan Ibuk sebagai pihak terdekat Mbak Al yang berada di sana waktu itu. Proses pengobatan yang akan dilakukan ini dengan memasukkan bulatan kapas sebesar biji buah jeruk yang sudah diberi obat ramuan ke dalam alat vital Mbak Al. Bagaimana cara memasukkannya? Hanya Mbak Al, Pak Anu, dan Tuhan yang tahu, karna proses itu dilakukan di bilik yang tertutup. Selesai memasukkan kapas itu, Mbak Al diminta untuk membeli air dalam botol ukuran satu liter yang terisi penuh agar pengobatan tadi dapat berjalan tanpa hambatan. Harga satu botol air itu hampir sekitar Rp1.000.000,00. Dan Mbak Al pun menyetujuinya.

Seperti pada pengobatan sebelumnya, selesai menjalani pengobatan alternatif ini pun Mbak Al patuh meminum air mujarab yang diberikan itu secara rutin. Beberapa bulan selanjutnya Mbak Al juga tidak terlihat mengeluh kesakitan lagi, namun hal itu berlangsung tidak lebih lama dari pengobatan yang sebelumnya. Waktu tiba masa menstruasi, Mbak Al justru langsung drop bahkan tidak sadarkan diri. Keluarganya langsung melarikan ke puskesmas terdekat. Dari puskesmas itu, Mbak Al mendapat rujukan untuk dibawa ke rumah sakit. Dengan bantuan ambulance dari puskesmas, pihak keluarga memboyong Mbak Al ke rumah sakit swasta di kabupaten ini. Bapak dan Ibuk menyusul ke rumah sakit beberapa jam kemudian. Ketika Bapak dan Ibuk sampai sana, ternyata Mbak Al dan keluarganya masih berada di ruang tunggu. Mbak Al yang sedang dalam kondisi terkapar itu tidak mendapatkan penanganan darurat oleh pihak rumah sakit. Ibuk kaget bukan main. Kemudian keluarga Mbak Al menjelaskan kepada Ibuk bahwa dokter yang bertugas pada hari itu sedang keluar dan pihak rumah sakit meminta agar pasien yang menggunakan jamkesmas untuk menunggu sampai dokter itu datang. Keluarga Mbak Al sudah berusaha meminta penanganan darurat atau paling tidak fasilitas yang memadai untuk pasien yang hampir sekarat seperti Mbak Al waktu itu. Namun pihak rumah sakit tetap menolak. Sungguh ironis kejadian waktu itu. Hanya karena tidak menjanjikan biaya pengobatan, pasien yang hampir sekarat tega ditelantarkan oleh pihak rumah sakit.

Akhirnya ibu berinisiatif untuk kembali ke puskesmas dan meminta rujukan ke rumah sakit di kabupaten sebelah. Singkat cerita, Mbak Al pun dirujuk kembali ke rumah sakit di kabupaten sebelah. Pelayanan di rumah sakit ini berdeda 180 derajat dari rumah sakit sebelumnya. Ketika Mbak Al diturunkan dari ambulance, beberapa perawat dan dokter magang langsung menghampiri. Mereka memberikan bermacam-macam pertanyaan yang berkaitan dengan kondisi Mbak Al. Tidak berselang lama, Mbak Al sudah berada di ruang gawat darurat. Kartu Jamkesmas yang dibawa keluarga diterima pihak rumah sakit tanpa mengurangi pelayanan prima yang diberikan. Bersyukur sekali masih ada rumah sakit yang tidak membeda-bedakan pasiennya. 

Saat ini Mbak Al sudah tidak dirawat di rumah sakit. Dia memutuskan untuk berobat jalan saja, karena tindakan operasi masih enggan dipilihnya. Pilihan untuk menikah pun tidak kunjung datang. Dokter hanya bisa membantunya dengan memberikan obat pereda rasa sakit dan anjuran agar Mbak Al menjaga kebugaran tubuhnya. Sudah hampir setengah tahun ini Mbak Al melakukan berobat jalan. Dia sudah jarang mengeluh sakit sekarang, namun kondisi tubuh dan berat badannya semakin berkurang. Aku, Ibuk, dan Bapak hanya bisa mendoakan kesembuhan Mbak Al, karena sekarang Mbak Al sudah tidak bekerja di rumah lagi. 

Semoga kalian dapat mengambil hikmah dari kisahku ini. Dan jika berkenan, mohon bantu mendoakan untuk kesembuhan Mbak Al. Terima kasih sudah membaca :)


Rabu, 27 November 2013

Letong

Hai!

Hari ini aku ingin berbagi kisahku bersama tiga orang yang memperkenalkan diri sebagai "Letong". Kami tidak menyebut hubungan kami ini sebagai persahabatan, karena memang yang kami lakukan bukan sebuah persahabatan namun lebih jauh dari itu. Kami bisa berhubungan layaknya keluarga, layaknya partner kerja, layaknya dokter dan pasiennya, bahkan layaknya musuh bebuyutan.


Kalau ada yang berpikir bahwa kami ini sebuah geng, sayang sekali, kalian 75% benar. Kami hidup saling melindungi satu sama lain, tapi tanpa pemimpin. Itu sebabnya aku tidak mengatakan 100% benar. Sebenarnya aku ingin mengulas asal usul istilah Letong ini, namun hal ini terlalu melenceng dari penampakan wujud asli kami. Bagi yang berasal dari Jawa, kalian pasti tahu apa itu Letong. :P

Kami terdiri atas Tika, Ghaida, Jani, dan aku sendiri. Kami dipertemukan di bangku kuliah. 

Ini pertama kali kami berkumpul. Lihatlah, kami masih memakai pose alay kami masing-masing. :D

Hubungan kami dimulai dari awal kuliah di semester 1. Berbagai kesibukan kuliah kami lakukan bersama-sama. Dan tahukah kalian, mengikuti kuliah bersama mereka itu SERU! Kami berlomba-lomba untuk menjadi yang terdepan di semua mata kuliah. Meski begitu, kami tetap saling membantu jika ada yang mengalami kesulitan.

Kami memiliki banyak sekali kegiatan gaul di luar jam kuliah. Salah satunya yang akan aku bahas berikut ini. Bulan Ramadhan kemarin, kami mengisi waktu luang ngabuburit dengan berjualan takjil di sekitar kampus. Takjil yang kami jual adalah es buah yang kami beri nama EL Fruit. Di bulan ramadhan itu kami membuka lapak mulai dari pukul setengah 5 sore. 

"Es Buah!! Es Buah!!! Es Buah!!!!!" Teriak mbak mbak penjual es buah dengan raut muka menegang dan nada suara yang sangat memaksa.

Siapa sangka, jualan kami selalu habis terjual setiap harinya. Yaa walaupun teriakannya lantang membahana, pelanggan-pelanggan kami dengan senang hati menghampiri dan membeli es buah kami. Dan itu sangat menyenangkan! :D Tapi keceriaan itu hanya bertahan tiga hari saja. Kami meminta maaf sekali untuk semuanya yang pada ramadhan kemarin masih menunggu kehadiran kami. Bukan, bukan karena kami bubar berebut hasil jualan, tapi waktu itu kami hanya ingin kembali fokus kuliah saja. :P

Semakin bertambahnya usia kami, semakin bertambah pula keakraban kami. Saat mengerjakan Skripsi kemarin, kami justru semakin sering menghabiskan waktu bersama. Saling support saat salah satu dari kami diberi siksaan skripsi oleh dosen pembimbing. 

Tahukah kalian? Muka kami yang lucu nun lugu itu dibilang brutal oleh sebagian orang.

Sampai tiba saatnya kami menyelesaikan studi kami dan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan. Perasaan senang, bahagia, bangga, lega campur aduk dalam hati masing-masing dari kami. Akhirnya kami dapat mengenakan toga BERSAMA. Dulu kami sempat berpikir jika kami tidak dapat melangsungkan prosesi itu bersama. Atau salah satu dari kami tertinggal sendirian bersama skripsinya. Kami pernah berpeluh air mata gegara masalah ini. Dan ternyata, jawaban yang Dia berikan sungguh melegakan.

Pas ngambil foto ini, Tika udah cabut duluan sama pacarnya. Pfft.

Akhirnya kami dapat menyandang gelar S.Pd. di belakang nama kami. Gelar yang selama ini kami idam-idamkan. Entah sudah berapa kali tawa dan tangis berhias di wajah kami demi mendapatkan gelar itu. Kini kami siap mengabdikan diri untuk bangsa dan negara. Kami siap menjadi Ibu Guru bagi peserta didik kami. 

(kiri ke kanan) Bu Ghaida, Bu Jani, Bu Ulfah, dan Bu Tika.

Selamat mengabdi teman-teman Letong. Semoga ilmu yang kita peroleh selama ini dapat bermanfaat bagi siswa-siswi kita. Aku sangat merindukan kalian. Sampai bertemu lagi di lain kesempatan. 


Selasa, 26 November 2013

Rumah Belajar Ilalang


"Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia."

Siapa yang tidak mengenal penggalan kalimat itu? Semenjak Tim sepakbola U-19 Indonesia memenangkan piala AFF 2013, kalimat milik bung Karno tersebut semakin populer berkat celoteh komentator fenomenal Valentino Simanjuntak itu.

Begitu hebatnya kekuatan yang dimiliki oleh pemuda hingga mampu mengguncang dunia. Hal ini memang terbukti benar adanya. Bukan hanya pemuda zaman dulu saja yang memiliki semangat menggguncang dunia, pemuda sekarang pun tidak kalah membara dan gaul tentunya. Banyak sekali kegiatan-kegiatan positif yang dilakukan oleh pemuda zaman sekarang. Di antaranya kegiatan penggalangan dana bantuan, penyelenggaraan tanam pohon, jalan sehat bersama, dan masih banyak lagi yang lainnya. Semua kalangan masyarakat dapat mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut, tak terkecuali anak-anak. Umumnya pemuda-pemuda ini berkumpul dan membentuk satu komunitas agar dapat menghimpun lebih banyak anggota lagi dan dapat menyelenggarakan acara-acara positif secara teratur.

Salah satu komunitas yang memiliki kegiatan positif yaitu Rumah Belajar Ilalang. Aku mengenal mereka dari jejaring sosial Twitter. Waktu itu secara tidak sengaja aku membaca Timeline @Penyala yang membalas Tweet dari @Rumah_Belalang ini.

Dulu aku sempat mengira bahwa tidak ada komunitas inspiratif di wilayah Jepara (FYI: aku tinggal di Jepara). Aku selalu iri dengan kota-kota besar seperti Jakarta, Jogja, atau Semarang yang memiliki puluhan komunitas inspiratif. Bahkan aku sempat berpikir untuk memulai sendiri dari awal dan menghimpun pemuda-pemudi di sekitarku untuk membentuk suatu komunitas. Yaa tapi itu masih dalam proses pikiranku saja, seperti yang pernah aku jelaskan di sini. Tapi ternyata, setelah aku membaca tweet dari @Penyala itu, aku menjadi tahu bahwa ada komunitas inspiratif di Jepara. Penasaran, aku buka Timeline twitter mereka. Aku baca kegiatan-kegiatan mereka, foto-foto mereka, juga sosok siapa saja yang ada di Rumah Belajar Ilalang ini. Dari sana aku mengetahui bahwa RBI ini merupakan sebuah komunitas penyedia tempat belajar bagi anak-anak. Alamat mereka yaitu di Desa Kecapi Rt 14 Rw 02, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara.


Rumah Belajar Ilalang (RBI) ini berdiri sejak April 2011 dari inisiatif Muhammad Hasan, atau yang biasa disebut Kak Hasan. Berawal dari keinginan untuk membuat hari minggu menjadi hari libur produktif bagi anak sekolah, dia memutuskan untuk mendirikan Rumah Belajar Ilalang ini. Sebuah tempat yang dapat mendekatkan anak pada lingkungan dan budaya warisan nenek moyang, bukan pada sinetron televisi ataupun game online. Hasan mengawali RBI ini dengan menyediakan tempat di rumahnya. Anak-anak yang datang ke RBI sebagian besar mereka yang tinggal di sekitar Kecapi, mulai dari anak TK sampai SD kelas VI. Umumnya, mereka adalah anak2 dari keluarga yang kurang mampu. Mereka berkumpul di RBI awalnya untuk membaca bersama. Hal ini dikarenakan di daerah Kecapi memang belum tersedia perpustakaan umum. Jadi ketika Kak Hasan ini membuka RBI untuk mereka, angin segar pun menghampiri. Kegiatan di RBI ini awalnya dilakukan seminggu sekali, yaitu pada hari minggu. Seiring berkembangnya jumlah anak di RBI, kegiatan pun meningkat. Dari yang hanya membaca buku bersama di hari minggu, berkembang menjadi belajar bersama di hari apapun jika mereka mengalami kesulitan pada pelajaran di sekolah.

Kak Hasan menanamkan budaya membaca kepada anak-anak ini awalnya dengan membacakan dongeng kepada mereka. Kegiatan di hari minggu sejak pukul 09.00 WIB ini selalu diawali dengan pembacaan dongeng oleh Kak Hasan. Baru setelah itu mereka diberi kesempatan membaca buku-buku anak yang disediakan RBI. Buku-buku ini merupakan hasil sumbangan Hasan sendiri, teman-teman pengurus lain, maupun donatur-donatur dari seluruh Indonesia. 


Meskipun di tempat yang sederhana, mereka tetap antusias membaca

Seiring berkembangnya RBI ini, berkembang pula kakak-kakak pengurusnya. Selain kak Hasan, ada pula Kak Sofi, Kak Waluya, dan Kak Isrowiyah. Mereka menyebut dirinya sebagai Ranger (relawan). Selain itu, RBI juga mengalami perkembangan pada jenis kegiatannya. Ada kegiatan belajar musik bersama, belajar bermain theater bersama, belajar menari bersama, membuat keterampilan bersama, menonton film bersama, dan masih banyak lagi kegiatan positif yang mereka lakukan.


Kegiatan berbagi cerita bersama kak Mustaqim 


Berkreasi dengan limbah kain jok sofa 


Belajar menanam padi di sawah

RBI memiliki agenda tahunan yang mereka beri nama Olimpiade Dolanan Anak (ODOLAN). Dalam kegiatan tersebut berbagai permainan tradisional tempo dulu diperlombakan. Seperti Dakonan, Gobak Sodor, Dam-daman, Egrang, dan lain-lain. Kegiatan yang berlangsung satu hari ini diikuti oleh ratusan anak  tiap tahunnya. ODOLAN bertujuan untuk mengurangi kecenderungaan anak bermain Game digital baik on-line maupun tidak.

Selain menyelenggarakan berbagai macam perlombaan dolanan, ODOLAN tetap menyediakan ruang baca bagi anak-anak

RBI juga pernah memeriahkan kegiatan Olimpiade Taman Baca Anak (OTBA) yang diselenggarakan di Bumi Perkemahan Ragunan Jakarta Selatan. Pada kesempatan itu, adik-adik penghuni RBI menampilkan tarian khas Jepara, yaitu tari Krida Jati.

Tari Krida Jati di OTBA Jakarta Selatan

Semangat dan antusiasme mereka untuk belajar sangat sangat tinggi. Jadi akan disayangkan jika hal itu hanya kita lihat dan tidak kita beri tindakan positif. Nah, untuk kalian yang bersedia bergabung menjadi Ranger RBI, dapat menghubungi Kak Hasan atau datang langsung ke sanggar RBI di Desa Kecapi Rt.14 Rw.02, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara. Kegiatan rutin mereka dilakukan setiap hari Jumat pukul 13.30 dan hari Minggu pukul 09.00. 

Dan untuk kalian yang ingin memperkaya pengetahuan adik-adik penghuni RBI dengan bantuan buku, RBI masih memiliki program #sedekahbuku. 



Jika bersedia mengikuti #sedekahbuku ini, sila kirim paketnya ke alamat Desa Kecapi Rt.014 Rw.02, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Kakak-kakak Ranger dan adik-adik penghuni RBI akan dengan senang hati menerima kiriman paket kalian. Paket buku yang dikirimkan boleh apa saja, asalkan sesuai untuk dibaca anak-anak ya! Dan niscaya, kalian yang bersedia berpartisipasi akan mendapatkan balasan surga dan tentunya menjadi pemuda pemudi GAUL. :D

Rumah Belajar Ilalang
Twitter: @Rumah_Belalang



NB: Maaf kalo kualitas gambarnya jelek. :D

Senin, 25 November 2013

Pendidik itu harus Smart!

Hai!

Beberapa hari yang lalu, secara tidak sengaja aku membaca kicauan Andi Gunawan yang membicarakan lomba ngeblog dari Emak Gaoel. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul, kicauan itu hanya aku tandai sebagai favorit, tanpa meninjau tautannya terlebih dahulu. Beberapa jam berikutnya baru aku buka dan aku baca tautan tersebut. Ternyata ada perlombaan menulis kreatif dalam rangka ulang tahun Blog Emak Gaoel yang ke-5. Hati-hati sekali aku membaca penjelasan lomba itu, dan akhirnya aku memutuskan untuk mengikutinya. Selain hadiahnya yang membuatku tergiur, kesempatan untuk memiliki pengunjung blog juga membuatku tertarik. Hahaha, kalian tidak tahu kan bagaimana tatapan nanarku ketika melihat statistik pengunjung blog ini. Selain itu, alasanku tertarik mengikuti lomba ini yaitu aku memperoleh ide menulis. Dengan beberapa persyaratan yang diberikan justru membuatku tertarik dan memunculkan ide-ide segar di kepalaku. Itung-itung nambah jumlah postinganlah yaa.

Baiklah, mari kita mulai saja perlombaan ini.

Sekarang ini aku sedang menekuni pekerjaanku membimbing siswa-siswi SMP untuk belajar Bahasa Indonesia di luar jam sekolah. Aku yang notabene Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia ini kebetulan belum mendapat kesempatan untuk mengajar pada jam sekolah. Pekerjaan yang aku lakukan ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pekerjaan mengajar di sekolah, hanya saja jumlah siswa yang aku ampu cenderung lebih sedikit. Dalam satu kelas hanya tersedia maksimal sepuluh kursi untuk siswa. Dengan jumlah siswa yang lebih sedikit itu, aku mampu membelajarkan Bahasa Indonesia secara lebih efektif. Aku justru dapat membimbing satu-persatu dari mereka ketimbang pembelajaran pada saat jam sekolah.

Aku menikmati saat-saat bertemu dengan mereka, bercengkerama dengan mereka, menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, dan memberikan pengertian-pengertian yang belum mereka pahami. Dan satu hal yang membuatku senang dan ketagihan untuk melakukannya, yaitu mendapati mata mereka hanya tertuju padaku. Kilatan sinar dari mata mereka menggambarkan bahwa mereka sedang mendengarkanku dan dapat mencerna setiap penjelasanku. Juga tatapan ingin tahu yang mereka tunjukkan itu yang membuatku merasa smart. Ketika perhatian mereka tertuju padaku, ketika itu pula aku merasa bahwa mereka percaya padaku. Mereka membuatku smart dengan mempercayakan pertanyaan-pertanyaan yang sulit mereka pahami itu kepadaku. Perasaan semacam itulah yang membuatku ketagihan untuk menggali ilmu lebih banyak lagi agar dapat mempertahankan tatapan itu terhadapku.

Terkadang ada beberapa siswa yang memberikan kepercayaan lebih kepadaku. Mereka mempercayaiku untuk mendengarkan kisah pribadinya. Di sela-sela PR akademis mereka yang aku bantu selesaikan, PR realita sosial pun ikut aku perhitungkan. Mendengarkan mereka bercerita menjadi salah satu hal yang menyenangkan bagiku. Justru dengan sikap mereka yang seperti itu, aku merasa diterima dan dihargai. Hal ini menjadi semacam hubungan timbal balik antara guru dan siswa. Apa yang guru sampaikan dapat siswa terima dengan baik dan apa yang siswa bicarakan dapat guru dengarkan dengan penuh pengertian. Menurutku, ketika dua hal ini dapat berjalan dengan seimbang, maka indikator pada setiap kompetensi dasar pun akan lebih mudah dicapai.

ini salah satu kelas yang aku ampu

Ketika tiba saat pembagian hasil belajar mereka di sekolah, perasaan deg-degan pun hinggap padaku. Karena sedikit banyak dari cara belajar mereka terdapat campur tanganku. Beberapa permasalahan yang belum dapat mereka pecahkan di sekolah, mereka selesaikan bersamaku. Beberapa hal yang belum mereka mengerti dari penjelasan guru di sekolah, mereka tanyakan kepadaku. Sehingga pada saat mereka datang kepadaku dengan menunjukkan hasil belajar yang memuaskan, perasaan bangga dan bahagia membuncah dalam hatiku. Itu berarti apa yang selama ini aku sampaikan dapat mereka terima dengan baik. Hal-hal yang sebelumnya kurang mereka pahami, dapat mereka cerna lebih baik melalui penuturanku. Dan, sorot mata yang menunjukkan kepercayaan yang mereka tunjukkan kepadaku itu tidak sia-sia dengan perolehan nilai akademis yang memuaskan.

Meskipun aku belum berkesempatan melakukan pembelajaran pada jam sekolah, namun aku tetap membagikan ilmu yang aku punya dengan sepenuhnya. Meskipun aku belum berseragam PGRI seperti guru-guru yang lain, tapi aku dapat membuat mereka mengerti dengan pemahamanku yang sederhana. Sapaan "bu" yang mereka sampaikan kepadaku menunjukkan penerimaan akan statusku. Kebiasaan mencium tangan yang mereka lakukan terhadapku juga yang membuatku berat untuk meninggalkan pekerjaan ini. Penerimaan yang mereka tunjukkan kepadaku secara tidak langsung memunculkan semangat tersendiri bagiku untuk menjadi pendidik yang lebih baik. Seorang pendidik yang smart dan bisa diandalkan oleh siswa juga orang-orang disekelilingnya.

Yang aku sayangkan di sini adalah hampir kebanyakan orang di lingkungan tempat tinggalku menganggap bahwa seseorang yang disebut guru merupakan orang yang melakukan pengajaran di sekolah. Dengan kata lain, kegiatan yang selama ini aku kerjakan belum mampu membuatku diakui sebagai seorang guru. (mungkin) Mereka menganggap apa yang aku lakukan saat ini hanyalah untuk mengisi waktu luang. Ada pula orang yang mengatakan bahwa pekerjaan yang sedang aku tekuni saat ini tidak dapat memberi penghidupan yang menjanjikan. Terus terang saja, hal itu sedikit menggelitik benakku. Jika dilihat dari segi penghasilan, memang benar jika gaji yang aku dapatkan jauh lebih sedikit ketimbang uang saku bulananku semasa kuliah. Hahaha. Apa yang aku lakukan saat ini bukanlah untuk mengejar pengakuan ataupun penghasilan. Karena bagiku, pekerjaan adalah ketika merasa puas dengan apa yang kita kerjakan, dan ketika kita dapat berkata bahwa memang di sinilah tempatku berada. Dan itu dapat aku temukan dalam pekerjaanku saat ini. Aku yakin , jika aku melakukan pekerjaan ini dengan sepenuh hati, aku dapat menghasilkan sesuatu yang menjanjikan. Jika aku dapat menekuni pekerjaan ini dengan baik, aku yakin akan memperoleh hasil yang lebih. Dan yang paling penting, aku harus smart!

Aku kira cukup untuk kisah mengajarku kali ini. Jadi bagiku, smart adalah ketika semua mata hanya tertuju padamu, ketika sebuah kepercayaan diberikan kepadamu, serta ketika sebuah tanggung jawab dibebankan kepadamu dan kamu dapat mempersembahkannya dengan baik.

Terakhir, selamat ulang tahun Blog Emak Gaoel dan selamat hari Guru bapak ibu PGRI. Semoga apa yang kita lakukan selama ini dapat bermanfaat bagi orang lain. Terus berkarya untuk masa depan bangsa yang lebih baik.