Laman

Tampilkan postingan dengan label Catatan Seorang Guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Seorang Guru. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 April 2015

Disapa Tuhan di Penghujung Bulan

Hai!

Selamat Malam!

Banyak kisah tak tersampaikan pada April tahun ini. Satu bulan yang teramat melelahkan. Rasanya seperti rangkuman beberapa elemen kehidupan. Termasuk "sapaan" dari Tuhan.

Tak pernah terbayangkan bahwa Tuhan sesayang ini padaku. Dalam sekali tepuk, sapaan itu membekas di hati dan ingatan. Luar biasa. Aku bahkan hampir tak mampu mengangkat kepala. Dia begitu berwibawa dalam menyapa.

Bisa jadi selama ini aku terlalu angkuh di mataNya. Sampai Dia harus menyapaku dengan sedemikian rupa. Seperti hujan yang selalu kembali ke lautan, sebijaksana itu pula Dia memilih cara untuk menyapa.

Dia Maha Pemberi Segalanya. Tatkala itu disalahartikan, maka Dia pun Maha Bijaksana untuk memberi pelajaran. Aku kagum dengan sikapNya, karena di setiap pembelajaranNya itu, tak lupa ia sisipkan secercah kebahagiaan yang tak pernah mengecewakan. Pun kepadaku, hal itu Dia lakukan.

Aku berucap syukur atas sapaanNya pagi ini. Tak lupa pula aku memohon ampun untuk kekhilafan yang selama ini aku lakukan. Ini pengalaman yang membekas di ingatan. Pengalaman yang teramat mengejutkan
.
Tapi Tuhan, boleh aku memohon sebentar? Kalau sempat, sisipkan tanda sebelum Kau menyapa. Biar aku juga bisa berjaga-jaga. Terima kasih, Tuhan.

Senin, 09 Maret 2015

I said "YES!!!"

Selamat pagi!

Hari ini hari kedua pelaksanaan UAS SMK di Kabupaten Demak. Kebetulan aku ditugaskan menjadi pengawas silang. Pengawas silang maksudnya pengawas yang bertugas mengawasi Ujian di sekolah lain. Ini tahun pertamaku menjadi pengawas silang. Sekolah yang beruntung menjadi pengalaman pertamaku ini yaitu SMK Al Mubaroq. Letaknya tidak begitu jauh dari sekolah tempatku mengajar. Itu satu hal yg aku syukuri dari penempatan tugas ini. Hahaha. Selama 10 hari ke depan aku akan bertugas sebagai pengawas ujian di sekolah ini bersama Pak Teguh, guru perwakilan dari SMK lain. Ahhh.. semoga tugas ini menyenangkan!

Selain tugas negara tadi, aku juga ingin membagi satu hal yang sampai hari ini masih meninggalkan senyum di bibirku. A little sweet surprise. Aku menyebutnya itu. Jujur, ini sesuatu yang selalu aku inginkan. Ohh mungkin juga yang semua wanita inginkan.

Sesuatu itu adalah kenaikan tingkat keseriusan sebuah hubungan. Bulan kemarin aku pernah bercerita tentang anniversaryku yang ke 6 tahun bersama lelakiku. Dan hari Minggu, tanggal 8 Maret 2015 kemarin, lelakiku mengajakku untuk memasuki pintu menuju jenjang yang lebih serius. Itu terjadi secara cepat dan tiba-tiba. Aku, tentu saja bahagia! Tanpa ragu pula aku menjawab "iya". Dia lelaki yang selama ini aku inginkan untuk selalu ada di sisiku. Dia lelaki yang selalu aku tuju untuk menjawab semua keraguanku. Dia lelaki sekaligus sosok pendamping idamanku. Ahh.. Bagaimana aku bisa menolaknya?

Kami sudah melalui beberapa fase kehidupan untuk sekedar disebut bekal. Aku sendiri pun sebetulnya sudah bosan dengan kisah kami yang berjalan lurus ke depan. Ini merupakan satu hal yang aku nanti-nantikan. Meniti sebuah tanjakan bersama sambil bergandeng tangan.

Aku bedoa semoga ini awal dari sebuah penghidupan. Bukan hanya untuk aku dan dia, tapi juga untuk keluarga besar kami berdua. Amin.

Baiklah, itu sekedar cerita dariku. Sepenggal kisah kehidupan yang Ia titipkan dalam hidupku. Dia yang Maha Pembuat Cerita masih menyimpan segudang jalan cerita untukku. Tugasku hanya menyampaikan kembali yang telah Ia tuliskan dalam garis hidupku.

Tunggu, kenapa ini menjadi begitu serius? Hahaha ok, take a breathe.. and relax..
Yups, see ya!

Sabtu, 15 November 2014

(mungkin) Ini yang Semua Orang Idamkan

Hai!

Selamat Pagi!

Entah siapa yang salah. Entah pemimpin. Entah karyawan. Ketika di antara keduanya sudah tejadi ketimpangan, niscaya pekerjaan pun tidak akan terlaksana sebagaimana mestinya.



Pada hakikatnya, seorang pemimpin merupakan sosok yang dapat menjadi panutan. Sosok yang dapat diandalkan. Sosok yang dapat menegur ketika rakyat melakukan kekeliruan, serta dapat membetulkan yang menjadi kesalahan.

Selayaknya seorang rakyat/karyawan/bawahan, tugas utamanya adalah patuh kepada atasan. Mengerjakan apa yang telah diperintahkan. Mengemban tanggung jawab yang telah dibebankan. Dan mempertanggungjawabkan semua yang telah dikerjakan.

Sebuah skema yang seharusnya dapat terlaksana dengan cukup sederhana. Bukan hal yang muluk-muluk aku rasa. Akan tetapi, itu semua tak semudah mengeja pembentukan kata. Hal ini bahkan lebih rumit ketimbang mengembalikan rubik pada porosnya.

Masing-masing orang diciptakan dengan kemampuan berpikir yang berbeda. Nalar yang bekerja dalam masing-masing manusia tidak sama. Pola pikir yang disusun pun berbeda. Beberapa di antaranya bahkan memiliki kecenderungan mudah memutar-balikkan pikirannya. Sudah menjadi rahasia publik bahwa kaum Adamlah yang memiliki kecenderungan itu.

Lain lagi dengan perasaan. Kaum Hawa yang lebih banyak berkecimpung dalam ranah ini. Menimang-acuhkan perasaan sudah menjadi hal biasa. Tidak heran, banyak orang segan menggadaikan perasaan. Terlebih yang melibatkan kaum Hawa.


Aku tidak menyudutkan orang-orang yang bermuka dua. Pun orang dengan mulut berbisa. Karena kita tidak pernah bisa membuat orang memiliki pola pikir dan perasaan yang sama dengan kita. Mungkin dengan mengadu domba, mereka bisa mendapat perhatian dari pimpinan yang bersinggungan langsung dengan penghasilan bulanan. Mungkin pula dengan muka memelas mampu mengumpulkan simpati dari rekan kerja yang berkorelasi dengan bebas tugas tanpa tanggungan kerja. Mungkin.

Kadang aku tidak habis pikir. Sebenarnya apa yang mereka dapat dari itu semua. Layaknya karyawan yang suka cari muka, pimpinan pun bisa bermuka dua. Demi menjaga kekokohan tiang penyangga, hal itu sudah lumrah dilakukan aku rasa. Mengapa tidak? Semua orang memiliki sisi kemunafikan sendiri-sendiri. Untuk apa? Untuk menjaga kekokohan tiang penyangga!

Oh. Betapa jahatnya aku. Lantas, kau sebut apa orang-orang yang berkata "kerja untuk ibadah" namun serakah meminta jatah? CIH.

Memang susah hidup dalam kemunafikan, tapi lebih susah lagi hidup dalam ketertindasan. Ini alam Dunia. Orang baik selalu kalah dengan orang licik. Akan menjadi berbeda jika sudah berpindah di alam Baqa.

Hmmmmm, baiknya kita ambil simpulan dari semuanya. Etos kerja perlu ditegakkan. Bekerja sesuai dengan skema yang telah ditentukan. Dan, berhati-hatilah dengan lingkungan. Kawan bisa berarti lawan. 

See ya!

Senin, 01 September 2014

Curhat (Tertunda) Seorang Wali Kelas

Hai!

Selamat Pagi!

Bagaimana kabar kalian? Kerjaan di kantor apa kabar? Berat badan turun berapa kilo? :))
Semoga apa yang aku harapkan sama dengan harapan kalian semua. :D

Ooh maafkan aku kalo di awal postingan sudah mengingatkan kalian pada kantor. Yah tapi itulah yang akan aku bahas kali ini. Kantor dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Hmmmm.

Pada Tahun Ajaran Baru ini, aku diberikan tanggung jawab untuk menjadi wali kelas XI di sekolah swasta, tempatku mengabdi. Syukur alhamdulillah, karena sudah dipercaya Bos Besar untuk menjadi wali siswa-siswi kelas XI yang notabene berpostur tubuh lebih besar dariku. Shock? Tentu saja! Tidak percaya diri? Jelas Ya! Tapi ini tugas dan amanat, jadi aku harus SIAP! Bos Besar memilihku pasti sudah mempertimbangkannya masak-masak. 

Kelas XI Teknik Kendaraan Ringan dan Persiapan Grafika ini kalau ditotal keseluruhan siswanya memang tidak terlalu banyak. Namun hal itu belum bisa membuat kelegaan di hatiku ketika melihat daftar permasalahan mereka di catatan guru BK. Masha Allah. Tidur di kelas. Ketahuan merokok. Terlambat masuk sekolah satu minggu berturut-turut. Di kantin saat pelajaran berlangsung. Membolos. Lompat pagar. Tidak masuk tanpa keterangan berturut-turut.
Belum lagi catatan dari petugas TU berkaitan dengan daftar tunggakan administrasi siswa kelas XI. Masha Allah.
Dan seketika itu aku lemas tak berdaya. Wali kelas baru dengan riwayat permasalahan siswa tahun lalu. Baiklah, aku harus mempersiapkan segalanya dengan ekstra.

Sederet nama siswa bermasalah di kelasku sudah aku kantongi. Hal pertama yang aku lakukan adalah mengamati, memahami, dan membuktikan catatan-catatan "merah" itu. Waktu dua minggu pertama cukup untukku mendapatkan jawaban itu. Semua catatan itu terbukti benar, dan belum ada perubahan yang signifikan dari mereka. Langkah berikutnya, aku menemui wali kelas mereka yang terdahulu untuk mengkonfirmasi sekaligus berkonsultasi. Beliau ini sudah paham betul bahwa aku adalah seorang pemula. Oleh karenanya beliau tak segan membagi ilmu dan nasihat sebagai seorang wali kelas. Syukurlah.

Rutinitas dan irama kerja seorang wali kelas mulai bisa aku ikuti. Sebetulnya menyenangkan, hanya sedikit melelahkan ketika harus mendengar laporan guru-guru mapel tentang kondisi siswaku saat KBM mereka. Melelahkan karena yang mereka laporkan hampir semuanya sama. Awalnya aku geram mendengar itu semua. Sebagai seorang wali kelas, aku mempunyai kewajiban untuk menertibkan mereka. Beberapa prosedur penertiban yang berlaku di sekolahku sudah aku ikuti. Hingga pada akhirnya Waka Kesiswaan memutuskan untuk mengirimkan surat panggilan orang tua siswa tersebut.

Akan tetapi, apa yang terjadi selanjutnya? Tak seorang pun Wali Murid yang hadir memenuhi panggilan tersebut. Ketika aku konfirmasi, ternyata anak-anak mereka yang melarang mereka datang ke sekolah. Harus bagaimanalah aku?

Hal-hal semacam ini sering membuatku terbang ke lamunan masa lalu. Dulu ketika aku ada di posisi siswa, apa Wali Kelasku juga semacam ini? Dulu waktu aku sering terlambat masuk sekolah, apa Wali Kelas juga selalu mengamatiku? Ooh, sungguh maafkan aku Bapak, Ibu. Aku sungguh tidak tahu bahwa selama bertahun-tahun aku sudah menjadi salah satu beban di pikiranmu. 

Aku sungguh tidak ingin menyebut ini sebagai sebuah karma. Aku hanya beranggapan ini semua sekedar pelajaran berharga untukku sebagai seorang guru. Agar aku juga dapat merasakan apa yang dirasakan Wali Kelasku dulu. Itu.

Nih Ekspresi Wali Kelas Baru :D

Bagi kamu yang saat ini masih menjadi siswa dan siswi, pahamilah bahwa Bapak dan Ibu guru adalah orang tuamu di sekolah. Mereka yang menjaga, merawat, dan membesarkan kamu. Hargai mereka, sebagaimana kamu menghargai Bapak dan Ibu kandungmu. Itu saja.

Semoga bermanfaat. CIAO!

Sabtu, 26 Juli 2014

Review Ramadhan Umeylida Tahun Ini

Hai!

Selamat malam! Selamat malam ganjil ke dua puluh sembilan!

Sungguh waktu berjalan di luar kendali. Pagi siang malam selalu berganti hingga tak terasa bulan Ramadhan ini akan segera berakhir. 

Meski begitu, aku sangat sangat menikmati Ramadhan tahun ini. Betapa tidak. Tahun ini aku menjalani satu bulan penuh (terhitung sampai besok) bersama keluarga di rumah. Tujuh tahun yang lalu, aku selalu menghabiskan puasa Ramadhanku di tempat perantauan. Kali ini, setiap tiba waktu sahur dan buka puasa aku tak perlu pusing mencari makanan untuk disantap sendirian. Alhamdulillah :D

Selain itu, Ramadhan tahun ini aku laksanakan dalam balutan kehidupan baru. Pada bulan Januari kemarin aku pernah bercerita bahwa aku dan keluaga dilanda musibah yang terbilang besar. Alhamdulillah, saat tiba bulan Ramadhan, kami sudah mampu bangkit dan menjalani kehidupan normal bahkan lebih baik dari sebelumnya. 

Kehidupan baruku yang kedua yaitu aku sudah menyandang gelar "Guru". Masih lekat di benakku, Ramadhan tahun lalu aku masih menimang skripsiku untuk diajukan kepada dosen pembimbing dan penguji skripsi. Tahun ini, jerih payahku itu sedikit terbayar. Alhamdulillah, aku kini telah menjadi Guru yang mengabdi di salah satu sekolah swasta di daerahku.

Ada kehidupan baru, ada pula kehidupan lama yang tak lekang oleh waktu. Rutinitas buka bersama yang setiap tahun selalu diagendakan, tahun ini pun masih dilaksanakan. IPS 3 SMA 1 KUDUS '09. Mereka keluarga besar yang mengisi kisah kasih remajaku. Dan Alhamdulillah, silaturahmi kami masih terjaga hingga saat ini. Kegiatan tahunan Buka Bersama IPS 3 selalu menggugah semangat untuk menikmati puasa di setiap Ramadhan.

Tak ada yang memperdulikan waktu bila sedang bersama orang yang selalu kita tunggu.

Love you all, Guys! :*
Selain mereka, tahun ini aku juga mempunyai keluarga baru. Iddea Learning namanya. Lembaga Bimbingan Belajar yang sangat humble dan menyenangkan. Baru genap satu tahun ini aku masuk dalam Keluarga Besar Iddea Learning ini. Sejauh yang aku kenal, mereka semua menyenangkan. Bisa betah berlama-lama dengan mereka, para tutor dan pengelola Iddea Learning ini. Dan tahun ini tahun pertama aku buka bersama mereka.

Ini Ibu-Ibu tentor Iddea Learning. Bapak-Bapaknya pada anti foto, Pfft.

Dan beginilah akhir postingan malam ke dua puluh sembilan. Hari Raya sudah di depan  mata. Semoga puasa terakhir besok lancar dan kita (umat muslim) bisa merayakan kemenangan di Hari Raya Idul Fitri. Amin.

Ciao! :3

Selasa, 06 Mei 2014

Harapan yang Datang dari Hati yang Berharap

Hai!

Baru kemarin postingan terakhir terbit, malam ini sudah kepingin nulis lagi. Ahhh, Mei memang selalu mengusik hati.

Sebenarnya aku tidak sedang bersuka cita, hati ini justru terasa hampa tatkala bercengkrama dengan saudara seusai senja. Tadi, aku memergoki saudara yang saat ini duduk di bangku kelas sembilan sedang bersantai di teras rumahnya. 

"Mbokya belajar, wong besok masih UN. Bahasa Inggris kan?"

Tak ada jawaban. Lantas aku tegur kembali.

"Nggak mau belajar?"

"Nggak punya bukunya." menjawab teguranku dengan muka nanar.

Astaga! Seketika itu pikiranku tersadar dan kembali ke beberapa bulan yang lalu. Ketika desa kami di landa banjir besar, sawah rumah tenggelam, harta benda melayang. Termasuk buku-buku pelajaran. Saat itu kami tidak sempat menyelamatkan apapun kecuali nyawa kami dan orang terdekat. 

Seketika hati ini miris. Sedih, membayangkan siswa yang hendak ujian harus terlantar karena tak punya materi yang hendak dikhatamkan. Seperti merajut tanpa benang. Meski ada jarum dan kemauan, namun tetap tak bisa ciptakan baju rajutan. Bagaimanalah ini?

Aku tak kuasa membayangkan anak itu mengerjakan soal-soal berbahasa Inggris besok. Memahami pertanyaannya saja dia kesulitan apalagi harus memilih jawaban yang benar. Tanggung jawab siapakah ini? Guru? Orang tua? Saudara?

Dan ketika pertanyaan-pertanyaan itu terlontar, maka akulah yang harus disalahkan. Aku seorang guru. Aku terhitung saudara dari anak itu. Dan aku calon orang tua.

Aku tahu aku salah. Aku juga tahu aku harus bertanggung jawab. Tapi bagaimanalah? Sedang benang pun aku tak punya. Jarumku tak mampu merajut menebus kesalahan dengan harapan semu.

Picture by www.adaptive-edge.com 

Senin, 05 Mei 2014

Tentang 5 Mei dan Ujian Nasional!

Hai!

Selamat malam! Selamat tanggal 5 Mei! :D

Logo Google untuk tanggal 5 Mei :D

Ucap syukur tak henti-hentinya aku lakukan hari ini. Syukur atas kelancaran UN Bahasa Indonesia hari ini dan syukur atas limpahan rahmat kepadaku hingga aku dapat merasakan kehangatan kasih sayang bersama orang-orang terdekatku hingga usia 22 tahun. Mendapat ucapan, bingkisan, hingga kejutan dari orang-orang terdekat merupakan kebahagiaan terindah bagiku.

Hari sebelumnya, tanggal 4 Mei 2014 kemarin, aku sebetulnya sempat lupa hari besarku sendiri. Seharian memberikan pemadatan materi UN kepada siswa-siswiku membuat pikiranku hanya terfokus pada UN dan keberhasilan siswa-siswiku menghadapinya. UN, UN, dan UN. Bahkan sepulang menunaikan pekerjaan memberi pemadatan materi itu, aku masih harus menyelesaikan kecamuk pikiranku akan beberapa materi Bahasa Indonesia yang terindikasi rancu dan ambigu. Berdiskusi bersama teman sejurusan, bertukar pendapat, dan saling memberi masukan hingga aku tertidur dan masih belum menyadari bahwa besok ulang tahunku. Bahwa aku lupa ritual menunggu jam 12 malam hingga ada orang pertama yang mengucapkan. 

Sampai pagi hari tadi, jika tidak mendapat pesan suara dari Temmy Deny Saputro pun, aku masih tidak sadar bahwa hari ini hari ulang tahunku. Yang aku tahu hanyalah UN Bahasa Indonesia sudah di depan mata.

Meskipun beberapa teman mengabarkan UN hari ini berjalan rempong-lancar, aku tetap bersyukur tidak menerima keluhan atau protes siswa-siswiku. Biasanya jika mereka tidak puas dengan ujian yang mereka kerjakan, mereka akan langsung menghubungiku. Alhamdulillah, hari ini tidak. Setelah aku konfirmasi ke beberapa anak, jawaban mereka pun cukup melegakan. Syukurlah.

Lantas, apa kabar hari ulang tahunku?

Hehehe.

Hari ini aku mendapat banyak sekali ucapan selamat, beribu doa, sepucuk surat cinta, satu paket kiriman pos, dan dua kali surprise beserta tiup lilinnya. Betapa indahnya hidup ini! Pulang kerja, masuk rumah sudah disambut keluarga dengan kue tartnya, plus paket kiriman pos yang sudah tergeletak di atas tempat tidur. Dilanjutkan selepas magrib, tamu istimewa datang dengan mengendap-endap membawa kue tart berhias lilin angka dua puluh dua. Betama romantisnya dia!

Tiup lilin pertama

Suapin Ibuk, malah fotonya burem -__-

Tiup lilin ke dua :D

Paket kiriman pos

Sepucuk surat cinta! :*

Terima kasih Tuhan, sudah menghadirkan malaikat-malaikat itu untukku. Terima kasih atas kenikmatan selama dua puluh dua tahun. Dan terima kasih untuk semua yang telah Kau berikan kepadaku.

Kebahagiaan, sesederhana mendapat kejutan. Selamat beristirahat, Kawan. :)

***

Bulatan penuh rembulan malam
Bintang gemintang mengusir kelam
Melukis indah langit purnama
Dalam aroma rasa bahagia

Lima nol lima sembilan dua
Mengurai kasih dari keluarga
Mencecap bahagia rasa di dunia
Menyimpan harap yang selalu ada
Agar kasih bahagia dapat abadi terjaga

***

Senin, 31 Maret 2014

Persiapan Menghadapi Ujian antara Guru dan Siswa

Hai!

Selamat malam!

Bagaimana long weekend kalian? Apakah menyedihkan? Well, aku berharap kalian bernasib sama sepertiku, menghabiskan long weekend dengan setumpuk pekerjaan. Hahaha.

Hampir sebulan ini aku sama sekali tidak produktif dalam tulisan di blog. Bukan karena aku melupakan, justru selalu aku pikirkan karena aku merasa telah mencampakkan. Akhir-akhir ini aku sangat disibukkan dengan urusan ujian. Eits, bukan bukan, ini bukan tentang ujian hidup, tapi ujian dalam lingkup pendidikan, Ujian Akhir Sekolah dan Ujian Akhir Nasional. Ya, ini tentang profesiku saat ini, seorang pendidik. 

Memasuki pertengahan tahun semacam ini, orang-orang yang bekerja dalam instansi pendidikan seperti aku ini sangat disibukkan dengan urusan ujian, ujian kelulusan lebih tepatnya. Entah itu berkaitan dengan siswa, entah berkaitan dengan atasan, atau pun berkaitan dengan sekolah. Well, kali ini, aku akan membagi pengalamanku menjelang ujian selamaku menjadi siswa dan menjadi seorang pendidik. 



Menjelang Ujian Ketika Menjadi Siswa

6 bulan sebelum hari ujian: mendaftarkan diri di lembaga bimbingan belajar untuk jam tambahan di luar sekolah. Jam tambahan ini hanya untuk mata pelajaran yang diikutkan dalam Ujian Nasional, meliputi: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA/IPS.

3 bulan sebelum hari ujian: mendapat pengumuman tentang jam tambahan di sekolah. Baiklah, harus berkurang lagi jam tidurku. Pikirku saat itu.

2 bulan sebelum hari ujian: jadwal try out mulai bergentayangan. Belanja perlengkapan ujian! Beli pensil 2b, beli penghapus pensil 2b, beli penggaris ujian, beli alas papan untuk ujian. Ooh senangnya, peralatan sekolah baru!

45 hari sebelum hari ujian: jadwal ujian praktik sudah ditempel! Ooh, bagaimanalah ini! Konsultasi kepada pengajar di bimbingan belajar, meminta bantuan menulis naskah pidato, materi praktikum, hingga bacaan salat jenazah.

30 hari sebelum hari ujian: jadwal ujian sekolah sudah ditempel! Aduh! Daftar pustaka itu urutannya: nama penulis, tahun terbit, sin, cos, massa jenis, usaha, aduuhhhh! Bagaimanalah ini!

15 hari sebelum hari ujian: refreshing.. refreshing.. refreshing.. Biarkan otak bernapas, biarkan mata berjalan-jalan, biarkan tangan menapak pemandangan. Ooh segarnya..

7 hari sebelum hari ujian: istighosah men! Doa bersama teman-teman, dipimpin oleh bapak ustadz. Mengumpulkan pensil dan penghapus yang akan digunakan ujian, dan menyerahkannyakepada bapak ustadz untuk dibacakan doa. 

picture by smkn7semarang.blogspot.com

1 hari sebelum hari ujian: broadcast sms! Minta maaf kepada semua orang yang ada di kontak HP dan minta didoakan untuk kelancaran ujian. Kalau yang satu ini jujur aku juga bingung, jika saat ini aku dapat sms semacam ini, aku pasti berpikir orang itu besok akan meninggal. Dan dulu aku melakukan ritual sebagai si pengirim sms. Entah apa yang ada di pikiran orang-orang yang menerima smsku dulu. #inihina

Itu semua merupakan kesibukanku menjelang ujian ketika menjadi seorang siswa. Kini posisiku sudah berganti menjadi seorang pendidik. Sosok yang dulu selalu aku perhatikan ketika berbicara di depan kelas. Dulu aku pikir menjadi sosok tersebut pastilah tidak sepusing siswa yang akan berperang menghadi ujian. Aku pikir beban pendidik lebih ringan ketimbang siswa menjelang Ujian Akhir Nasional. Ternyata..

Menjelang Ujian Ketika Menjadi Pendidik

6 bulan sebelum hari ujian: menyiapkan materi mulai dari semester 1 sampai semester 6 untuk disampaikan kepada siswa. Mempelajari materi tersebut, menyusun strategi agar dapat mudah dipahami oleh siswa.

5 bulan sebelum hari ujian: rapat bedah SKL satu kabupaten. Mengkategorikan materi mulai dari golongan paling sulit dipahami hingga paling mudah dipahami.

4 bulan sebelum hari ujian: menindaklanjuti hasil rapat bedah SKL. Merumuskan strategi kembali, mensiasati materi-materi yang tergolong dalam kategori sulit dipahami.

3 bulan sebelum hari ujian: jam tambahan mulai dilaksanakan di sekolah. Saatnya menjalakan strategi yang sudah dipersiapkan. Rapat persiapan ujian mulai dilaksanakan.

2 bulan sebelum hari ujian: saatnya pemanasan ujian dilakukan. Surat edaran try out dibagikan. SK pembuatan soal try out diberikan. Rapat pelaksanaan ujian praktik dilakukan.

Kerjaan tambahan nih!

45 hari sebelum hari ujian: mengoreksi hasil try out siswa, menganalisis kesalahan, membuat strategi baru untuk materi yang belum dikuasai siswa, sembari mempersiapkan soal ujian praktik.

30 hari sebelum hari ujian: rapat pelaksanaan Ujian Akhir Sekolah. Pengawasan dalam kegiatan belajar siswa diperketat. Mulut berbusa.. Pikiran meletup-letup.. 

Kesibukan menjelang ujian ketika menjadi pendidik berakhir di sini, karena saat ini aku sedang dalam fase ini. Ketika menulis postingan kali ini pun, aku baru saja pulang dari memberikan pelajaran tambahan di luar sekolah. Saat ini aku memang berprofesi sebagai pendidik di dua tempat. Pagi di sekolah, sore di lembaga. Dan besok pagi siswa-siswiku akan menghadapi Ujian Akhir Sekolahnya, jadi seharian tadi aku memberikan perlajaran tambahan untuk persiapan menghadapi ujian tersebut.

Tidak perlu kalian bandingkan antara kesibukan menjelang ujian ketika menjadi siswa dan ketika menjadi pendidik. Aku hanya berharap kesibukan menjelang ujian siswa siswiku tidak seperti aku. Ooh, semoga kalian diberi kelancaran dalam mengerjakan ujian besok. Amin.

picture by masramdahsyat.blogspot.com

Oh iya, "..... sebelum hari ujian" yang aku maksudkan adalah Ujian Akhir Nasional ya. Ujian tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 14-16 April 2014 untuk jenjang SMA dan tanggal 5-8 Mei 2014 untuk jenjang SMP. Satu lagi, kesibukan menjelang ujian yang aku ceritakan di atas silakan kalian terapkan jika itu menurut kalian baik, karena dalam menghadapi ujian, tidak hanya siswa yang kerepotan, pendidik pun kalangkabut mempersiapkan semuanya.

Untuk siswa-siswiku, tingkatkan intensitas belajar kalian, perbanyak latihan soal, selalu bertanya jika menemui kesulitan. Dan tetap jangan lupakan makan juga hiburan. Itu penting untuk kondisi psikologis kalian.

SUKSES! :)

Sabtu, 22 Februari 2014

Senyum Palsu untuk Malam Minggu

Hai!

Selamat malam!

Semangat menikmati weekend? 

Ooh, aku masih berusaha bisa bersemangat menikmati weekend seperti kalian. Ada beberapa hal yang membuatku harus memasang senyum palsu. 



Pertama, aku baru saja ditinggalkan teman seperjuanganku selama 4 tahun semasa kuliah. Beliau meninggal sangat mendadak, bahkan tanpa kabar dan pertanda macam-macam. Tiba-tiba saja kemarin kami menemukannya tertidur dengan tubuh yang sudah kaku. Padahal semalam beliau masih baik-baik saja, tidak sakit atau apapun. Sungguh, ini berita yang sangat mendadak bagi kami dan tentu saja keluarga almarhum. Semasa kuliah, beliau teman yang baik, partner kerja yang komunikatif, juga lawan bercanda yang sangat menyenangkan. 4 tahun mengenalnya, 4 tahun membekaskan kenangan indah bersamanya. Aku mewakili keluarga meminta maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan beliau, baik disengaja maupun tidak. Beliau orang baik, sudah sepantasnya beliau mendapatkan tempat terbaik di Surga dan di hati orang-orang yang ditinggalkannya.

Aku berharap hari ini, duka itu dapat digantikan dengan rasa ikhlas. Ikhlas melepas beliau menuju haribaanNya. Mungkin beliau memang terlalu sempurna untuk disebut sebagai manusia. Untuk itulah Sang Maha Kuasa memanggilnya untuk dijadikan malaikatNya. Aditya Pradana, malaikat baru Tuhan yang akan menjaga kita semua. Amal dan Budi baikmu akan selalu menginspirasi kami, Dit. Bahagia di sana ya, ingat, jangan "keta-kete"! :")

Alm. Aditya Pradana, S.Pd.

Ok, itu tadi kisah sedihku yang menjadi salah satu penyebab weekendku kali ini menjadi murung. Lanjut ke alasan kedua, saat ini aku merasakan ke'semrawut'an di lingkungan kerjaku. Sekolah tempatku mengajar saat ini, sedang mengalami pailit dari segi pengajar. Menyedihkan sekali setiap hari aku harus menatap wayah-wayah berharap dari siswa-siswiku. Wajah berharap bahwa mereka akan mendapatkan ilmu baru. Dan harapan itu harus mereka kubur dalam-dalam karena sosok guru yang mereka nantikan tak kunjung datang. Aku bisa apa? Kalaupun turun tangan, aku harus minta ampun karena tidak mampu mengampu keenam kelas yang ada.

Aku memang masih terhitung baru dalam dunia kerja ini, namun aku bukan anak baru dalam hal pendidikan. Semenjak TK hingga lulus kuliah, aku berada dalam pendidikan formal. Bahkan saat ini aku menyandang gelar sarjana pendidikan. 4 tahun aku mempelajari seluk beluk dunia pendidikan dan kegiatan belajar mengajarnya. Jadi, aku tahu persis bagaimana rasanya belajar di sekolah, bertemu teman baru dan mendapat ilmu baru. Aku juga tahu persis bagaimana seharusnya menjadi seorang pengajar. 

Jangan pernah meremehkan seorang pengajar, pun dengan siswa-siswi yang mereka ampu. Keduanya saling berkaitan, saling membutuhkan. Jika salah satunya tidak ada, mereka akan pincang. Persis seperti sekolah tempatku mengajar saat ini. Entah apa dan siapa yang menjadi sebab dalam permasalahan ini. Yang pasti, aku kurang setuju jika siswa-siswiku harus menanggung akibatnya.

Begitulah.. beberapa hal yang mengganggu weekendku kali ini. Aku berharap semua itu segera berakhir.

Terakhir, selamat menikmati weekend, selamat bermalam minggu, dan selamat mengakhiri kisah sendu. Sampai ketemu lagi! :D

Kamis, 09 Januari 2014

Di mana Jantung Sekolahku?

Hai!

Ini hari keduaku. Masuk sekolah tetap pukul 7. Guru-guru yang masuk hari ini berbeda dengan yang masuk kemarin. Ya, (mungkin) memang beginilah mobilitas guru wiyata di sekolah (swasta). Masuk sekolah hanya saat ada jam mengajar saja, bahkan untuk masalah waktu berangkat dan pulang saja, guru wiyata menyesuaikan dengan jadwalnya. Misalnya hari ini jadwal mengajarnya pada jam ke 3-4, sekitar pukul 09.30-11.00 WIB. Biasanya guru yang bersangkutan baru hadir di sekolah sekitar pukul 8 dan pulang selepas pukul 11. Hal ini disebabkan (mungkin, lagi) mereka memiliki sekolah wiyata yang lain. Jadi mereka menyesuaikan jadwal mengajar mereka dengan beberapa sekolah tempatnya wiyata bakti.

Bapak Ibu guru yang hadir di kantor pagi ini kebanyakan masih seumuran denganku, tidak jauh berbeda dengan kemarin. (mungkin) Sebagian besar guru-guru wiyata di sini memang masih seumuran denganku, para fresh graduate. Sedikit lega, aku tidak bakalan canggung untuk berinteraksi dengan mereka, batinku saat itu. Sedikit basa-basi, perkenalan, saling menyebutkan nama, alamat, dan sudah berapa lama mengajar di sini. Ternyata mereka satu tahun lebih berpengalaman daripada aku. Pagi ini, kami asyik bercengkrama dengan perkenalan basa-basi layaknya orang normal lainnya. Stop, ralat, bukan kami, melainkan mereka. Mereka asyik bercengkrama dengan obrolan renyah sebagai salam perkenalan kepadaku. Aku lebih banyak diam mendengarkan, ikut tertawa sesekali, dalam sedikit menimpali obrolan yang aku pahami.

Salam perkenalan basa-basi dari mereka itu kemudian dilanjutkan dengan obrolan yang (terlihat) cukup serius. Melihat itu, aku pun tertarik untuk mendekat ke lingkaran obrolan mereka. Setengah jam bergabung dan mendengarkan, aku tidak paham apa yang sedang mereka bicarakan. Guru wiyata, pembuatan karya, penempatan di sana, entahlah. Aku tidak mengerti konteks yang mereka bicarakan. Dan pembicaraan itu pun selesai ketika ada salah satu staff TU masuk ke ruang guru. Pembicaraan kasak kusuk yang cukup serius itu menguap dengan sendirinya, digantikan dengan obrolan ringan basi-basi kembali. Kalian tahu apa yang aku pikirkan? Kalian pasti tahu.

Aku pun kembali ke mejaku, membuka novel yang sengaja aku bawa dari rumah. Aku lebih baik masuk ke dalam kehidupan lain di dalam novel, daripada memikirkan hal-hal dalam pikiranku yang aku sendiri belum mampu menyimpulkan. Tidak lama kemudian, bel tanda pergantian pelajaran pun berbunyi. Semua guru dalam ruangan ini bergegas masuk ke kelas, tersisa aku sendiri. Hari ini aku memang tidak memiliki jam mengajar (Maaf? Jam mengajar? Kamu kan hanya diminta mendampi pak farid mengajar?). Well, hari ini tidak ada mata pelajaran produktif yang diampu pak Farid, jadi sebenarnya aku bebas tugas, tidak ada kegiatan. Jadi ya beginilah, aku sendirian di kantor dan berusaha menenggelamkan diri dalam kisah Rehan dan Diar.

Tiba-tiba, Bu Anik yang baru saja keluar dari ruang kepala sekolah memanggilku untuk menghadap Bapak Kepala Sekolah. Aku menurut. Sampai di dalam ruang Kepala Sekolah, ternyata beliau sudah menungguku. Yang membuatku heran, Bu Anik juga ikut duduk di sana bukan kembali ke meja kerjanya. Perasaan itu aku redam seperti biasa dan berusaha menunjukkan ekspresi sewajarnya. Bapak Kepala Sekolah seperti biasa langsung berbicara to the point tanpa aling-aling. Ada beberapa hal yang beliau sampaikan saat itu, pertama, beliau memintaku untuk menghandle presensi guru, presensi hadir dan presensi pulang. Kedua, beliau memintaku untuk mengampu mata pelajaran Seni Budaya, kemarin memang sudah pernah beliau sampaikan, hari ini beliau menjelaskan lebih detail mengenai materi pelajaran, jadwal mengajar, dan kelas yang diampu. Ketiga, aku diminta untuk menggantikan bu Rahma, menemani bu Defi memonitoring siswa-siswi kelas IX yang sedang PKL. Terakhir, dan "hal lain-lain", beliau memintaku untuk mengeluarkan ide-ide kreatif yang mampu membantu memajukan sekolah ini. Beliau "menginterogasi"ku berdasarkan bidang yang seharusnya aku ampu, Bahasa Indonesia. Beliau mengorek semua kemampuanku dalam berbahasa, bahkan hingga ke bidang kepramukaan. Yaa karena aku di sini masih sangat baru, aku hanya mendengarkan dan menimpali sebisaku. Saat itu, aku merasa topik pembicaraan yang diberikan Bapak Kepala Sekolah sudah mulai melenceng dari porsiku. Hal-hal di luar bidangku beliau jewantahkan kepadaku, seolah-olah aku ini seorang lulusan baru yang serba bisa, bukan seorang lulusan baru guru Bahasa Indonesia.

Hari ini aku masih berusaha memahami manajemen sekolah wiyata baktiku. Aku masih banyak diam dan mendengarkan. Lebih banyak memahami, mengumpulkan bukti-bukti, dan berusaha menyimpulkan. Hari ini aku tidak masuk kelas, namun aku masuk ke jalan menuju jantung sekolah ini. Semoga besok akan lebih baik dari hari ini.

"Selamat pagi, Bapak Ibu guru!", sapaan hangat dari bu Ulfah di kesunyian ruang guru.

Rabu, 08 Januari 2014

Pagi Bu Guru!

Hai!

Hari ini hidup baruku dimulai. Aku mendapakan sebah tawaran kesempatan mengajar. Tawaran ini diberikan pada hari Senin kemarin. Senin siang itu tiba-tiba ada panggilan masuk ke nomor m3ku. Nomor tak dikenal. Sebenarnya aku agak ragu untuk mengangkatnya, karena nomor itu benar-benar nomor asing, bukan nomor telepon kantor pula (biasanya kalo nomor telepon kantor/rumah cepat aku angkat, karena aku pikir itu pasti telepon penting! :D). Namun akhirnya telepon itu aku angkat juga. 

"Assalamu'alaikum, mbak Ulfah?" terdengar sapaan dari seberang. Waktu itu aku masih berpikir ini telepon dari siapa. "Iya, ini siapa?" Jawabku akhirnya. Kemudian percakapan berlangsung bergantian, sambung menyambung.

"Begini mbak, kemarin mbak Ulfah memasukkan lamaran ke SMK Tunas Bangsa?"

"Oh iya, bagaimana bu?"

"Ini saya bu Anik dari SMK Tunas Bangsa. Kemarin saya baca daftar riwayat anda, pada kolom keahlian keterampilan, salah satu yang tertulis di sana itu photoshop. Benar?"

"Oh.. Emmmm, iya bu, benar". Astaga! Daftar riwayatku! Aku bahkan lupa kalau pernah mencantumkan photosop di sana. Biasanya aku memakai photosop itu ya untuk mengedit foto, paling rumit itu aku menggunakan photosop untuk membuat desain cover buku antologi puisiku sendiri, itu pun hanya untuk dinikmati pribadi dan beberapa orang terdekatku. 

"Begini mbak, mbak Ulfah ini jurusannya Bahasa Indonesia ya? Sebelumnya saya mohon maaf sekali, mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMK Tunas Bangsa sudah ada yang mengampu. Nah, kebetulan di sekolah kami membutuhkan bantuan dalam pengajaran grafika. Ini dalam daftar riwayat anda tertulis menguasai photosop, saya rasa cocok untuk membantu mengajar mata pelajaran produktif jurusan grafika. Kalau mbak Ulfah berkenan, besok silakan datang ke sekolah untuk bertemu dengan kepala sekolah".

Apa?? Grafika?? Bukan Bahasa Indonesia?? Aku sempat kecewa mendengar kabar siang itu. Bagaimana tidak, aku lulus kuliah menyandang gelar sarjana pendidikan Bahasa Indonesia, dan hari ini ada tawaran yang memintaku untuk mengajar di luar bidangku. Apa yang harus aku lakukan?

"Oh begitu ya bu, tapi saya belum sepenuhnya menguasai program photosop bu".

"Kalau membuat desain cover bisa?"

"Emmmm, saya pernah membuat sih bu, tapi bukan untuk dijual, hanya untuk dinikmati pribadi".

"Ya setidaknya kan tahu programnya, kalau masalah bisa atau tidak nanti bisa dipelajari. Jadi besok bisa datang ke sekolah untuk bertemu dengan Bapak Kepala Sekolah ya?"

"Iya sudah bu, nanti saya coba dulu".

"Kalau begitu besok bisa datang ke sekolah pukul 10 ya mbak".

"Baik, bu".

Begitulah akhir pembicaraan kami di telepon. Aku memutuskan untuk mengambil tawaran itu. Toh baru akan bertemu dengan kepala sekolah, untuk urusan mengajar atau tidak nanti diputuskan setelah bertemu dengan kepala sekolah. Begitu pikirku.

Maka keesokan harinya, seperti yang sudah disepakati aku datang ke SMK Tunas Bangsa pukul 10 tepat. Di sana aku disambut bu Anik (yang menghubungiku kemarin) dan Bapak Kepala Sekolah. Aku tidak menyangka bahwa Bapak Kepsek ini langsung to the point, tanpa aling-aling apapun, memintaku untuk bersedia berjuang dan bergabung dengan guru-guru di sana untuk mengampu mata pelajaran grafika. Tidak cukup hanya itu, beliau juga menambahkan satu mata pelajaran lagi yang kebetulan memang belum ada pengajarnya, yaitu seni budaya. Astaga! Apa-apaan ini! Saat Bapak Kepsek berbicara panjang lebar, aku lebih banyak diam dan duduk takzim mendengarkan. 

Waktu itu beliau juga menjelaskan bahwa beliau memahamiku sebagai lulusan Bahasa Indonesia, namun menurut beliau sebuah pengalaman mengajar juga sangat penting bagi seorang guru. Beliau juga berdalih, dengan aku mengampu mata pelajaran yang di luar bidangku, secara otomatis aku juga belajar ilmu baru. ("Hahaha. Tapi aku tidak ingin mengambil lahan pekerjaan orang lain, Pak!" Begitu pikirku saat waktu itu)

Aku ingin sekali menolak permintaan beliau waktu itu, namun demi kesopanan, aku beralasan ingin meminta persetujuan orang tua dulu. Bapak Kepala Sekolah pun mengamini, namun tetap dengan jejalan kalimat bujukan agar aku bersedia mengajar di sana. Beliau memintaku untuk segera memberi kabar ke sekolah, jika aku bersedia dan mengambil tawaran ini, beliau langsung memberiku kesempatan mengajar besok paginya. Sebelum aku pamit pulang, beliau juga memintaku untuk mengcopy modul-modul grafika. Dan akhirnya aku pulang dengan membawa segudang perasaan campur aduk dan keputusan yang harus segera aku ambil.

Sampai rumah, apa yang aku lakukan? Tentu saja aku bercerita panjang lebar kepada Ibuk. Menceritakan setiap detail yang dibicarakan dengan kepsek, dan tak lupa mengatakan segala yang terpendam dalam hatiku. Selayaknya ibu yang bijaksana, Ibuk pun menyarankan kepadaku untuk mengambil tawaran itu, toh menurut beliau setiap hari aku hanya berkegiatan di sore hari, jadi lebih baik pagi harinya digunakan untuk mengajar di sekolah. Lagipula, kalau ada tetangga yang berkomentar kan setidaknya kamu sudah memiliki jawaban, (omongan tetangga! Ini bagian yang paling aku benci) begitu nasehat beliau kepadaku. 

Malamnya, aku juga bercerita kepada Bapak, dan jawabannya kurang lebih sama. Mungkin memang orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya, dan mungkin inilah jalan terbaik yang dipilihkan orang tua untukku. 

Hari ini, tepat pukul 7 pagi aku sudah bertandang ke SMK Tunas Bangsa. Menuruti nasehat orang tua. Aku belum pernah mengajar siswa SMK sebelumnya, apalagi mengajar mata pelajaran yang bukan bidangku. Akan aku taklukkan tantangan ini. Dan semoga kesempatan mengajar ini (benar-benar) menambah daftar pengalaman mengajarku.

"Selamat pagi, siswaku!" sapa bu Ulfah di kelas X grafika hari ini.