Laman

Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Januari 2015

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, dari Eka Kurniawan

Hai!
Selamat Pagi!
Ini pertama kalinya aku membaca novel dari Eka Kurniawan. Astaga! Baru sampai di bagian pertama novel ini, aku sudah dibawa melayang kemana-mana. Aku memang sempat melihat label "21+" di sampul novel ini. Awalnya aku kira label itu untuk peringatan bahwa konflik di dalamnya adalah konflik rumah tangga. Dan ya, tebakanku tepat sasaran! Hanya saja itu jauh, jauh, dan jauh di luar perkiraan.

Aku tak menyangka Eka Kurniawan segila itu. Diksi yang ia gunakan benar-benar di luar batas kebiasaanku. Dan itu hampir saja membuatku enggan melanjutkan. Aku butuh penyesuaian dengan mata dan daya serap pikiran. Yang benar saja! Aku terbiasa dengan Supernova, dan sekarang aku harus melahap tulisan gila (Maaf Om Eka, aku menyebut tulisanmu gila).
Setelah berhasil melakukan penyesuaian, aku akhirnya mampu menemukan alur cerita. Sebuah konflik yang terbilang rumit. Baiklah, mari kita bahas satu per satu.

Tema.
Menurutku, novel ini mengangkat tema kejantanan. Setiap peristiwa yang dihadirkan tercium aroma jantan. Ada perkelahian, ketidaksabaran, dan kehamilan. Semua itu ditampilkan dengan tegas dan elegan.

Tokoh.
Aku rasa Om Eka ini tidak berminat memakai nama-nama tokoh yang mudah dilupakan, beliau lebih memilih menggunakan nama-nama yang orisinil dan membekas di ingatan. Tokoh utamanya bernama Ajo Kawir. Anak dari seorang karyawan perpustakaan. Alih-alih hidup tenang berkecukupan, Ajo Kawir memilih hengkang dan menghampiri perselisihan. Sebagai tokoh utama, ia memiliki seorang sahabat yang senasib sepenanggungan. Namanya Si Tokek. Tokoh ini sangat setia menemani dan melindungi Ajo Kawir. Baginya, masa depan Ajo Kawir lebih penting dari segalanya. 
Selain Si Tokek, ada pula Iteung. Seorang bodyguard cantik yang pandai berkelahi. Dia satu-satunya wanita yang dapat membuat Ajo Kawir bertekuk lutut di hadapannya. Baik dalam pertarungan fisik, maupun pertarungan hati. 

Alur.
Novel ini memiliki alur yang cukup complicated. Alur mundur dipilih untuk menceritakan asal mula nasib buruk yang harus dijalani Ajo Kawir di sepanjang cerita novel. Lalu tiba-tiba Om Eka sudah beralih ke alur maju untuk menggambarkan keadaan Ajo Kawir di masa kini. Dan secara tiba-tiba pula, alur cerita sudah kembali lagi ke alur mundur untuk menceritakan kisah Ajo Kawir sebelum ia sampai di masa kini. 
Pada setiap bab, novel ini mengalami pemenggalan cerita yang sangat cepat. Hal itu bisa terjadi lebih dari 30 kali dalam setiap bab. Pemenggalan itu dilakukan untuk berganti setting, ada pula yang dilakukan untuk berganti alur.
Aku kurang paham ekspektasi Om Eka dengan melakukan itu semua, karena aku memang baru pertama kali ini berkenalan dengan karyanya.

Sudut Pandang.
Memilih menjadi orang lain dengan konflik serumit ini, menurutku pilihan yang sangat berani. Sebagai orang ketiga pelaku utama memang ada banyak keuntungan, meski tidak sedikit pula kesulitannya. Akan tetapi, Om Eka mampu menempatkan diri secara arif dan bijaksana. Congrats, Om!

Latar.
Latar tempat dalam novel ini tidak digambarkan secara jelas. Menurut pendapatku, masa remaja Ajo Kawir dihabiskan di tanah sunda, Bandung. Hal ini aku yakini dari beberapa tempat yang digambarkan, seperti area perkebunan dan kampung padepokannya. Awalnya aku mengira ini semua terjadi di tanah betawi, tapi setalah aku mengenal masing-masing tokoh yang dihadirkan, aku pun menanggalkan persepsi itu. 
Di sepanjang cerita "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas" ini, suasana yang dihadirkan cukup menegangkan. Hal ini sejalan dengan tema yang dipilih Om Eka, kejantanan. Ketegangan yang dimaksud terlihat dari konflik perkelahian, drama percintaan, bahkan ketegangan antara Ajo Kawir dengan "miliknya".
Latar waktu yang dipilih, sangat menunjang suasana yang ingin dihadirkan. Selain itu, waktu yang dihadirkan, menurutku hampir sesuai dengan realita. Misalnya, ketika Ajo Kawir ingin mencari keributan, ia berjalan ke belakang bioskop saat matahari hampir tenggelam. Di sana ia mendapatkan segerombolan remaja yang sedang nongkrong dan menggoda perempuan. Latar ini sesuai dengan realita masa kini.

Amanat.
"Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas" mengajar kepada kita bahwa diam bukan berarti tiada. Diam bukan berarti tak bisa. Diam bukan berarti lupa. Diam selalu lebih baik daripada ketamakan. Itu.

Setelah selesai membaca novel ini, lantas melihat ilustrasi covernya, kalian pasti akan tertawa getir. Sama seperti yang aku lalukan. Awalnya aku berpendapat gambar burung di sampul itu lucu, tp setelah tahu.. Ah, malangnya nasibmu.


Haha! Sudah segera beli bukunya Om Eka ini! Dijamin nggak bakal nyesel! :))

Sabtu, 28 Desember 2013

Tere Liye: Negeri Para Bedebah

Hai!

Aku baru saja menyelesaikan membaca novel milik Tere Liye yang berjudul Negeri Para Bedebah. Novel ini merupakan salah satu novel fiksi ilmiah. Dari beberapa novel fiksi ilmiah yang sudah pernah aku baca, Negeri Para Bedebah ini menghadirkan dasar keilmuan baru bagiku. Novel ini mengemas materi politik ekonomi, materi yang sangat baru untuk dicerna telinga dan pikiranku. Menarik, sangat menarik. Tere Liye mampu mengemas dunia politik ekonomi secara ringan. Aku sendiri yang memang orang awam dalam bidang ekonomi, menjadi paham dan mengerti siklus peredaran uang di dunia ini. Penjelasan yang diberikan Tere Liye sangat sederhana, bahkan tidak jarang penjelasan itu dilengkapi dengan cerita semacam dongeng. 

Dalam novel ini, Tere Liye memposisikan dirinya sebagai orang pertama pelaku utama. Thomas, lulusan sekolah bisnis ternama di dunia dan kini berprofesi sebagai seorang konsultan keuangan profesional. Memiliki jadwal yang padat setiap harinya melebihi jadwal presiden. Beberapa kali mengisi kolom majalah ekonomi terbaik di dunia. Hingga suatu hari, prestasi dan kecakapan Thomas itu harus diuji dengan persoalan keuangan dari perusahaan bank milik keluarga. Sejak memutuskan untuk belajar ilmu ekonomi, Thomas mengganti seluruh daftar riwayat hidupnya, menghapus bagian-bagian masa lalunya yang tidak ingin diingatnya, bahkan memutuskan hubungan dengan salah satu anggota keluarganya. Ketika pemilik perusahaan bank itu memberikan kabar buruk pada Thomas, dia hampir saja tidak mau peduli, karena pemilik perusahaan itu merupakan anggota keluarga yang sudah ia hapus dari ingatannya. 

Om Liem, anggota keluarga yang sudah tidak ingin diingat Thomas kembali. Malam itu, Om Liem mengabarkan kepada Thomas bahwa kondisi istrinya (Tante Liem) sedang kritis, sementara di luar rumah Om Liem ratusan polisi mengepungnya dan ingin membawanya ke penjara. Mendengar itu, Thomas tidak kuasa menolak permintaan Om Liem untuk datang ke kediamannya. Sesampainya di sana, Thomas melihat kondisi tante dan omnya sangat memprihatinkan. Sebagai anggota keluarga pemilik bank yang hampir bangkrut itu, sekaligus sebagai seorang konsultan keuangan yang profesional, Thomas harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan perusahaan dan keluarganya. Di tengah situasi yang mendesak itu, Thomas membuktikan bahwa dirinya memang pemikir yang handal dan pengambil keputusan yang akurat. Thomas memutuskan untuk membawa lari Om Liem dari kepungan polisi setelah memastikan kondisi Tante Liem benar-benar pulih. Thomas membawa kabur tersangka utama kasus Bank Semesta!

Thomas memutuskan untuk membantu Om Liem menyelamatkan Bank Semesta yang sudah diambang kebangkrutannya. Sebenarnya yang membuat dia tertarik untuk terlibat dalam kasus ini adalah orang-orang yang berkaitan dengan kasus ini merupakan orang-orang yang sama seperti kasus di masa lalunya. Kasus yang membuat dia kehilangan segalanya, orang tua, keluarga, bahkan jati dirinya. Thomas bertekad akan melakukan segala cara untuk menyelamatkan Bank Semesta juga keluarganya. Bahkan jika itu harus berurusan dengan nyawanya sekali pun. 

***

Menegangkan dan cukup energik, konflik-konflik yang diciptakan Tere Liye melalui tokoh Thomas ini. Seorang pria dewasa yang sudah mapan, pintar dan ditambah lagi dia adalah seorang petarung. Tere Liye memberikan sentuhan tambahan untuk watak Thomas ini dengan menghadirkan profesi sampingan sebagai seorang Petarung. Ya, Petarung dalam arti yang sebenarnya. Hal ini dimaksudkan agar watak bedebah dari seorang pelaku politik ekonomi ini tertutup dengan watak petarung yang bertanggung jawab dan tak pernah ingkar janji. Perpaduan yang cerdas sekali! Dengan begitu, pembaca dapat meneladani bahwa para bedebah juga memiliki sisi positif dalam hidupnya.

Seperti pada karya-karya Tere Liye yang lain, dalam Negeri Para Bedebah ini juga dihadirkan sosok "malaikat". Sosok yang arif dan bijaksana dengan segudang ilmunya. Sosok itu adalah Opa, kakek dari Thomas. Diceritakan bahwa Opa merupakan seorang imigran dari China yang mencari kehidupan baru di Indonesia pada saat perang saudara dulu. Opa memulai hidupnya di Indonesia sebagai pengusaha terigu. Usahanya ini kemudian dilanjutkan oleh anak-anaknya, Edward dan Liem (papa dan om Thomas). Dalam novel ini, Opa berapa kali muncul dengan petuah-petuahnya. Memberikan pemahaman melalui kisah masa lalunya. Ini termasuk salah satu ciri khas Tere Liye. Mengajari namun tidak menggurui.

Negeri Para Bedebah ini selain menghadirkan keseruan konflik politik ekonominya, juga sesekali diselingi dengan percikan asmara yang menggelitik antara Thomas dan seorang wartawati muda. Sangat menggelitik karena keduanya sama-sama tidak mau mengakui perasaan, justru menutupinya dengan ego masing-masing. Hal ini menjadi hiburan tersendiri bagi pembaca, di saat-saat tegang menghadapi persoalan politik, asmara ini tampil sebagai intermezo. 

Satu hal yang perlu di sayangkan untuk novel ini, pilihan gambar sampulnya masih kurang menarik. Permasalahan ini memang tidak pernah lepas dari novel-novel Tere Liye. Walaupun ilustrasi gambar sampulnya sudah sesuai dengan cerita yang dikisahkan, namun komposisi gambar, jenis huruf, dan pilihan warnanya masih terlalu kontras. Apalagi jika melihat isi buku ini begitu cerdas dan mampu menarik pembaca. Mungkin pepatah "Don't judge a book by it's cover" sesuai untuk novel yang satu ini. 

Sekian review novel Negeri Para Bedebah ini, semoga dapat menjadi referensi bacaan kalian. Sampai jumpa!

Judul: Negeri Para Bedebah
Pengarang: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Juli 2012
Jumlah Halaman: 433 halaman


Sabtu, 14 Desember 2013

Katarsis: Psychology Thriller by Anastasia Aemilia

Judul: Katarsis
Pengarang: Anastasia Aemilia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: April 2013
Jumlah Halaman: 261 halaman
Harga Buku: Rp45.000,00

Gila! Ini novel "gila"! Novel ini hampir membuat saya gila! Baik dari penyajian konflik, penggambaran alur, bahkan para tokohnya, semua membuat gila!

Tara, seorang gadis cantik yang selalu menolak dipanggil Tara bahkan sejak dia baru dilahirkan itu memiliki kepribadian yang menarik. Kata pertama yang dia ucapkan saat dia baru belajar bicara adalah "bukan", bukan kata "mama" atau "papa" selayaknya bayi pada umumnya. Dia juga selalu enggan memanggil kedua orangtuanya dengan panggilan "mama" dan "papa", Tara justru memanggil orangtuanya dengan nama mereka masing-masing, Tari dan Bara. Ya, nama Tara merupakan penggabungan dari nama kedua orang tuanya. Dan karena itulah Tara tidak menyukai namanya. Tara juga tidak menyukai orang lain memanggilnya "Tara", bahkan orangtuanya sendiri. 

Keanehan lain yang Tara tunjukkan yaitu pada saat gigi susunya tanggal di malam hari ketika Tari dan Bara sedang terlelap. Tara menangis kesakitan dan berteriak memanggil Tari, namun Tari dan Bara tidak mendengar teriakan Tara, sampai pada akhirnya Tara kesal dan membanting gelas kosong yang ada di meja tempat tidurnya. Suara gelas yang membanting ke lantai itu berhasil membagunkan Tari dan Bara. Mereka langsung berlari menuju kamar Tara. Tari yang pertama kali masuk. Saat Tari berjalan mendekati Tara yang masih tergeletak di kasur, Tari tidak memperhatikan pecahan gelas yang ada di lantai, sehingga kakinya menginjak pecahan gelas itu dan membuat langkahnya limbung. Bara yang melihat kejadian itu langsung mendekati Tari tanpa memperhatikan Tara yang masih meraung kesakitan. Melihat itu, Tara semakin kesal dan membuat rasa sakitnya itu semakin terasa sakit. Akhirnya Tara memutuskan untuk berlari mengambil air untuk berkumur sendiri. 

Selesai berkumur dan meredakan sakit di giginya itu, Tara melihat Tari dan Bara berada di puncak tangga, bermaksud turun untuk menyusulnya. Tara melihat kaki kiri Tari sudah terbalut kain putih dan berjalan dengan dipegangi Bara. Melihat itu, Tara justru berlari menaiki tangga tanpa memedulikan mereka. Saat sampai di samping Tari, Tara menginjak kaki Tari, tepat ketika kaki sebelahnya sedang diangkat untuk melangkah. Tentu saja Tari langsung jatuh berguling di tangga, membuat suara benturan beberapa kali, suara tulang retak, dan Tari akhirnya meninggal di tempat.

Dari kejadian itu, Tara berhasil menyingkirkan Tari dan sekaligus Bara, karena Bara memutuskan untuk pergi dan menitipkan Tari kepada keluarga adik laki-lakinya, yaitu Arif dan Sasi Johandi. Di keluarga Johandi inilah Tara dibesarkan. Tara menyukai keluarga ini karena Arif dan Sasi lebih sering memanggilnya "Nak", bukan nama yang selama ini dia benci. Arif dan Sasi memiliki anak laki-laki yang bernama Moses. Dia tujuh tahun lebih tua dari Tara. 

Ketika Tara baru saja dibelikan sepeda baru oleh Arif dan Sasi, Moses diminta untuk mengajarinya bersepeda di taman. Saat belajar bersepeda itu, Tara tidak mengira bahwa Moses akan tega melepaskan pegangan pada sepeda Tara, saat sepeda itu meluncur di jalan turunan. Hal itu membuat sepeda Tara menabrak pohon besar dan tubuhnya terpelanting dari sedel, kepalanya membentur batang pohon dan berdebam di tanah. Banyak orang di taman yang memperhatikannya, namun yang menghampirinya justru seorang anak laki-laki bertopi merah. Dia membantu Tara berdiri dan membawanya berjalan ke tepian. Ketika anak laki-laki itu bertanya siapa nama Tara, Tara hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan itu. Kemudian anak laki-laki itu berhenti berjalan dan berjongkok di samping Tara. Dia bertanya tentang sakit di tubuh Tara, lalu mengambil sesuatu dari kantongnya. Sebuah koin lima ratus rupiah. Anak itu kemudian berdiri tegak dan meletakkan koin itu di telapak tangan Tara sambil berkata,

"Mamaku bilang, kalau kita lagi sakit, kita harus pegang koin agar sakitnya hilang."

Tara berpikir itu adalah hal bodoh. Mempercayai koin untuk menyembuhkan rasa sakit. Tara menganggap anak laki-laki itu bodoh karena percaya pada koin lima ratus rupiah itu. Dan menjadi semakin bodoh ketika anak itu membagi kebodohannya pada Tara. Hal bodoh yang menjadi sugesti itu ternyata mampu membekas di pikiran Tara cukup lama dan mengantarkannya menuju harta karun yang tidak pernah terpikirkan olehnya.

***

Novel Katarsis ini menghadirkan kisah penuh teka-teki dengan banyak kejutan di dalamnya. Teka teki yang membuat penasaran itu disajikan melalui potongan demi potongan kisah. 

Sesuai dengan judulnya, "Katarsis", novel ini menghadirkan kisah tentang cara pengobatan orang yang berpenyakit saraf dengan membiarkannya menumpahkan segala isi hatinya dengan bebas. Tokoh sentral dalam novel ini yaitu Tara. Diceritakan memiliki kepribadian aneh, sikap yang tidak wajar, dan terkadang brutal.

Dengan gaya bercerita orang pertama pelaku utama, Anastasia membangun karakter tokohnya secara misterius. Anastasia lebih sering menunjukkan pikiran tokoh utamanya untuk menegaskan peristiwa yang ingin dia ciptakan. Hal ini cukup berhasil membuat pembaca geregetan dan penasaran untuk segera melanjutkan membaca kisahnya. Dalam novel ini, Anastasia beberapa kali mengubah sudut pandangnya, namun tetap konsisten pada ke-akuan-nya. Dengan begitu, pembaca jadi lebih memahami jalan cerita, juga karakter dari masing-masing tokoh.

Pilihan bahasa yang Anastasia gunakan juga cukup menarik. Bahasa sehari-hari yang tegas dipilihnya untuk menggambarkan peristiwa demi peristiwa dalam novel ini. Cara penuturan yang santai, jujur dan apa adanya menambah peristiwa itu menjadi semakin mencekam. Salah satu contoh, pada saat Ello akan memotong jari kelingkingnya, Anastasia menuliskan "Aku mengambil gunting dan menjepit kelingkingku di sana. Mulai ada sayatan. Kulit luar menjadi sobek. Kakiku bergerak-gerak tak sabaran. Jemariku menekan dan menekan gunting itu." Dan begitulah, berkali-kali Anastasia menggambarkan peristiwa tragis dengan santai dan polosnya.

Tokoh psikopat yang diciptakan Anastasia dalam novel ini tidak cukup hanya satu, namun beberapa. Dan dari kesemuanya itu saling berhubungan. Ini sesuatu yang tidak dapat diduga sebelumnya. Bahkan salah satu tokoh yang semula terlihat hanya sebagai tokoh sampingan, ternyata malah menjadi akar dari semua peristiwa yang dihadirkan dalam novel ini. Tokoh yang semula menjadi sorotan, justru tidak ada kaitannya dan hanya menjadi tokoh sampingan saja.

Dari awal hingga akhir, Katarsis ini terus menghadirkan teka-teki yang sulit untuk dipecahkan. Bahkan pada tahap penyelesaiannya pun, Anastasia masih mempertahankan teka-teki itu. Dan lengkaplah teka-teki itu ketika Anastasia menutup kisah ini dengan ending yang terbuka.

Ada yang sudah membaca novel ini? Share komen yuk!

Jumat, 06 Desember 2013

Tere Liye: Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah


Judul Buku             : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Pengarang              : Tere Liye
Penerbit                 : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit          : April 2012, cetakan ketiga
Jumlah Halaman     : 512 halaman
Harga Buku           : Rp 72.000,-

“Perasaan itu tidak sederhana satu tambah satu sama dengan dua. Bahkan ketika perasaan itu sudah jelas bagai bintang di langit, gemerlap indah tak terkira, tetap saja dia bukan rumus matematika. Perasaan adalah perasaan.”

Mengesankan! Mungkin itu ungkapan yang tepat untuk novel ini. Petuah cinta, kehidupan, kesehatan, bahkan keilmuan bisa kita dapatkan di sini.

Borno, pemuda bersahaja dari tepian Sungai Kapuas, yang hidup sebagai pengendara sepit. Sepit (dari kata speed) merupakan sebuah perahu kayu, sarana transportasi umum yang biasa digunakan untuk menyeberangi Sungai Kapuas. Kisah ini bermula ketika Borno harus kehilangan ayahnya saat ia masih berusia 12 tahun. Ayahnya meninggal karena terkena sengatan ubur-ubur ketika sedang mencari ikan. Dan betapa mulianya hati Ayah Borno. Beliau mendonorkan jantungnya sebelum meninggal. Ia bahkan tidak meminta uang sepeser pun dari hasil donor itu. Hebatnya, Borno mewarisi kebaikan dan ketulusan hati Ayahnya itu.

Borno tinggal bersama ibunya di rumah sederhana di tepian Sungai Kapuas, Pontianak. Sebelum menjadi pengendara sepit, ia pernah bekerja di pabrik karet, SPBU, bahkan menjadi penjaga pintu masuk kapal feri. Tak disangka, justru menjadi pengendara sepit inilah, Borno menemukan cinta sejatinya. Ketika sedang menarik sepit, ia menemukan sepucuk angpau merah tergeletak di atas sepitnya. Alih-alih membukanya, Borno mencari pemilik angpau merah itu dan berniat ingin mengembalikannya. Ternyata angpau merah itu milik gadis keturunan Cina bernama Mei. Dari sinilah cinta Borno bersemi. 

Hari-hari berikutnya, Borno semakin penasaran dengan gadis pemilik angpau merah itu. Ia menghafal bahwa tiap pukul 17.15 pagi, gadis itu menyeberangi Sungai Kapuas menggunakan sepit. Maka karena rasa penasaran dan keinginan untuk bertemunya itu, setiap pagi Borno selalu antre narik sepit diurutan tiga belas. Bagaimana pun caranya, dia harus bisa antre di urutan itu. Karena menurut perhitungannya, antrean nomor tiga belas tepat dengan jadwal menyeberang gadis itu.

Mei sebenarnya tinggal di Surabaya, ia datang ke Pontianak untuk praktik mengajar di salah satu sekolah yayasan. Saat kebiasaan menyeberang Sungai Kapuas dengan diantar sepit Borno itu berubah menjadi sebuah kedekatan, hal yang tidak diingankan terjadi. Masa praktik Mei di Pontianak telah habis, dan ia harus segera kembali ke Surabaya. Mereka pun berpisah. Ketika dalam masa sulit itu, Borno bertemu dengan Sarah, seorang dokter gigi yang masih sangat muda. Tak disangka, ternyata keluarga Sarah mempunyai hubungan khusus dengan keluarga Borno di waktu dulu. 

Setelah setahun lebih Borno menunggu, akhirnya kabar baik dari Mei pun datang. Ia kembali ke Pontianak. Ia kembali mengajar di sekolah yayasan tempat dia praktik dulu. Betapa bahagianya hati Borno mendengar kabar tersebut. Rutinitas seperti pada waktu pertama kali bertemu pun terulang kembali. Mei datang ke dermaga pukul 07.15 pagi dan sepit Borno berada di antrean nomor tiga belas. Semakin hari semakin dekat saja hubungan mereka, walaupun sebenarnya belum ada yang mengungkapkan perasaan masing-masing. 

Pada satu ketika, Mei dan Borno berencana untuk berkeliling Pontianak bersama. Pukul 09.00 pagi, mereka janjian bertemu di dermaga sepit. Karena tidak ingin terlambat, Borno berangkat lebih awal. Dengan perasaan gembira Borno menunggu pujaan hatinya itu. Namun hingga pukul 09.30 Mei tak kunjung datang. Perasaan Borno berubah menjadi cemas. Tidak biasanya Mei terlambat. Pukul 10.00 Mei masih belum datang. Akhirnya Borno memutuskan untuk pulang saja. 

Berhari-hari, berminggu-minggu, masih belum ada kabar dari Mei. Hingga pada suatu malam, Mei tiba-tiba menemui Borno. Namun ia datang dengan membawa kabar buruk. Kabar yang sama sekali tidak diinginkan Borno. 

***

Tidak seperti novel-novel percintaan lainnya, novel ini datang dengan membawa kisah cinta yang bersahaja. Berangkat dari kesahajaannya itu Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah mampu mengena di hati para pembacanya. Tanpa kata-kata puitis nan romantis, kisah Borno dan Mei mampu menginspirasi hanya dengan tingkah mereka yang lucu dan manis. Pembaca seolah tidak sedang membaca sebuah novel namun dibimbing untuk mengahadirkan memori kisah percintaan masa remaja. Semua orang pastilah pernah mengalaminya. Hati berdebar ketika akan bertemu dengan sang pujaan, malu-malu saat akan memulai pembicaraan, curi-curi pandang ketika sedang berduan, semua itu digambarkan dengan sederhana namun sangat akrab di hati para pembaca. Tanpa kita sadari, beragai realitas seperti ini sering sekali terjadi dalam kehidupan kita. Lingkaran-lingkaran tak kasat mata yang manghubungkan kita satu sama lain, seringkali muncul secara ajaib tanpa pernah diduga. Pernahkah Anda menyadari bahwa ada banyak benang merah yang muncul terlalu tiba-tiba ketika kita mengenal seseorang. Dan benang-benang itulah yang membangun kisah antara Borno dan Mei.

Dengan bahasa yang sederhana, Tere Liye mampu membuat pembacanya tertawa, tersenyum, tersipu malu, bahkan meneteskan air mata. Pembaca seakan terbawa alur cerita dan selalu ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dalam novel ini, alur maju terlihat sangat dominan, walaupun sesekali Tere Liye menampilkan kilas balik atau alur mundur. Hal itu sudah menjadi ciri khas di setiap karyanya. Bahasa yang ringan membuat pembaca tidak perlu berpikir keras untuk mencerna maksud dari penulis. 

Tak hanya kisah cinta, melalui novel ini kita juga menerima pelajaran hidup yang tak kalah inspiratif. Jika Anda sering membaca karya-karya Tere Liye, Anda pasti hafal bahwa dia selalu menampilkan sosok malaikat yang mampu menginspirasi. Begitu juga dengan novel ini. Tere Liye menghadirkan sosok Pak Tua yang selalu memberi petuah berdasarkan pengalamannya. 

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah mengajarkan kepada kita bahwa cinta itu bukan sekedar kata-kata puitis dan rayuan gombal, melainkan cinta adalah perbuatan. Cinta sejati adalah perjalanan, tidak pernah memiliki ujung, tujuan, apalagi hanya sekedar muara. Kita selalu bisa memberi tanpa sedikit pun rasa cinta, tetapi kita tidak akan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi. Pesan yang ingin disampaikan yaitu ketika kita sedang banyak pikiran, gelisah, kita selalu punya teman dekat yang bisa jadi penghiburan, bukan sebaliknya tambah dihiraukan. Selain itu, novel ini juga menyampaikan bahwa sepanjang kita punya rencana, jangan pernah berkecil hati.

Pada dasarnya novel ini hampir tidak ada kelemahan. Hal itu disebabkan karena penulis secara cerdas dan apik menggambarkan keruntutan alur, deskripsi setting, dan eksplorasi kekuatan karakter. Dari segi isi, novel “Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah” ini hampir tidak ada cela. Namun terdapat sedikit kekurangan pada segi tampilannya. Cover dari novel ini terkesan kurang menarik. Dari pemilihan warna, bentuk huruf, dan ilustrasi gambar belum semenarik kisah di dalamnya.